Belum ada yang bisa memastikan seberapa lama reli saham Amerika Serikat yang sedang berlangsung akan bertahan. Di tengah tren indeks utama yang terus menguat stabil, para analis top Wall Street terbagi dua pandangan soal arah pasar. Optimisme terhadap siklus besar pertumbuhan AI berlawanan dengan peringatan valuasi terlalu tinggi dan potensi gelembung aset yang mengintai.

Kriti Gupta, Ahli Strategi Investasi Global di JPMorgan, memiliki pandangan sangat bullish terhadap potensi kenaikan yang didorong oleh Artificial Intelligence. “Kami memperkirakan S&P 500 akan menembus level 9.000 dalam 12 bulan ke depan, setara dengan kenaikan 22% dari level sekarang. Siklus besar AI bisa berkembang lebih besar dari ekspektasi pasar umum. Peningkatan produktivitas mampu mendorong pertumbuhan laba perusahaan di atas 10% tanpa memicu inflasi,” ujarnya. JPMorgan menilai potensi pertumbuhan dari AI masih sangat luas. Peningkatan produktivitas akan memperkuat laba korporasi sekaligus menahan tekanan inflasi agar tidak muncul kembali.
Morgan Stanley juga memproyeksikan saham AS masih punya ruang kenaikan. Michael Wilson, Kepala Strategi Saham AS bank tersebut, menjelaskan berbagai dukungan dari siklus kebijakan dan industri. “Tahun 2026 adalah tahun pemulihan aset berisiko. Tiga pilar kebijakan — fiskal, moneter, dan pelonggaran regulasi — akan berjalan selaras, sementara siklus investasi modal AI masih berada di tahap awal. Kami menaikkan target S&P 500 menjadi 7.800 di akhir tahun.” Dengan dukungan kebijakan yang seragam dan investasi AI yang baru dimulai, tim analis yakin tren kenaikan akan terus berlanjut sepanjang sisa tahun ini.
Di sisi lain, Michael Hartnett, Kepala Strategi Bank of America, meremehkan prospek cerah pasar dan memberikan peringatan keras soal gelembung. Ia melihat pergerakan harga yang kuat, sentimen investor ritel yang optimis, serta volatilitas rendah sebagai ciri khas pasar yang terlalu panas.
“Pergerakan harga kuat, investor ritel optimis, volatilitas rendah… ini adalah gelembung. Ditambah dengan IPO raksasa seperti SpaceX dan OpenAI, tingkat konsentrasi pasar bisa melampaui puncak historis era Roaring Twenties, Nifty Fifty, pasar Jepang tahun 1980-an, dan gelembung TMT tahun 1990-an.” Ia mendorong investor untuk tetap waspada, karena reli saham saat ini dinilai tidak akan bertahan lama.
Hingga kini, lembaga keuangan Wall Street masih berselisih pandangan mengenai arah pergerakan S&P 500. Kelompok optimis mengandalkan momentum AI dan kebijakan pendukung yang berkelanjutan. Sementara pihak pesimis memperingatkan konsentrasi pasar yang ekstrem dan valuasi mahal pada akhirnya akan memicu koreksi tajam. Untuk sementara, pasar saham akan terus bergerak seimbang antara fundamental pendorong yang kuat dan risiko penurunan yang semakin menumpuk.
