Risiko Hormuz Terus Membebani Pasar Minyak

Risiko Hormuz Terus Membebani Pasar Minyak

Risiko Hormuz Terus Membebani Pasar Minyak — Kesepakatan Telah Ditandatangani, Namun Pertanyaan Penting Masih Belum Terjawab

Memorandum antara Amerika Serikat dan Iran telah ditandatangani, namun para pelaku pasar minyak masih belum merasa tenang. Laporan Global Daily dari Rabobank menilai bahwa kesepakatan tersebut masih menyisakan berbagai persoalan penting terkait Selat Hormuz sehingga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.

Apa yang Sudah Disepakati — Dan Apa yang Masih Belum Jelas

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali. Namun kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks.

┌──────────────────────────┬──────────────────────────────────────────────────┐
│ Variabel                 │ Status Saat Ini                                 │
├──────────────────────────┼──────────────────────────────────────────────────┤
│ Status Hormuz            │ Dibuka sebagian — hanya sedikit kapal yang      │
│                          │ melintas pada hari Senin                         │
│ Estimasi Pejabat AS      │ 1–2 minggu hingga arus energi kembali normal     │
│ Estimasi Ahli Maritim    │ 40–50 hari untuk pemulihan operasional penuh     │
│ Ancaman Tarif Iran       │ Transit gratis selama 60 hari; tarif setelahnya  │
│ Penumpukan Kargo         │ Dibutuhkan beberapa minggu untuk mengurai        │
│                          │ antrean pengiriman                               │
└──────────────────────────┴──────────────────────────────────────────────────┘

Tenggat Waktu 60 Hari: Titik Ketegangan Sebenarnya

Iran mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz secara bebas selama masa negosiasi 60 hari. Namun setelah periode tersebut berakhir, Teheran berencana mengenakan tarif transit secara de facto, sebuah kebijakan yang ditolak keras oleh Amerika Serikat.

Situasi ini menciptakan dilema bagi operator kapal tanker minyak mentah. Bahkan kapal yang berhasil keluar dari Hormuz hari ini masih menghadapi ketidakpastian apakah akan kembali melewati jalur tersebut ketika tenggat geopolitik semakin dekat.

Rabobank menilai bahwa apabila Iran gagal memperoleh manfaat ekonomi yang dijanjikan dalam kesepakatan, negara tersebut tidak memiliki banyak alasan untuk terus menjaga selat tetap terbuka. Logika "gunakan sekarang atau kehilangan pengaruh" dapat mendorong Teheran membiarkan kesepakatan runtuh dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut EIA (2024), sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat memberikan dampak besar terhadap harga energi dan ekspektasi inflasi.

Prospek Berdasarkan Skenario

┌─────────────────────────────┬─────────────────────────────────────────────┐
│ Skenario                    │ Dampak terhadap Pasar Minyak                 │
├─────────────────────────────┼─────────────────────────────────────────────┤
│ Pembukaan lancar (1–2 minggu)│ Pasokan membaik; tekanan turun pada WTI     │
│ Penundaan 40–50 hari        │ Pasokan tetap ketat; risiko kenaikan harga    │
│ Kesepakatan gagal setelah   │ Repricing tajam; harga berpotensi melonjak    │
│ 60 hari                     │ ke level tertinggi                            │
└─────────────────────────────┴─────────────────────────────────────────────┘

Apa Artinya Bagi Trader di Asia Tenggara

Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand merupakan importir energi utama. Ketidakpastian yang berkepanjangan di Selat Hormuz akan meningkatkan biaya impor, inflasi, serta tekanan terhadap mata uang SGD, MYR, IDR, dan THB.

Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan akan didominasi oleh volatilitas tinggi dibandingkan arah tren yang jelas. Pernyataan The Fed pada hari Rabu menjadi faktor makro penting berikutnya. Jika The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish, dolar AS berpotensi menguat dan memberi tekanan terhadap harga minyak.

Pantau harga CFD WTI dan Brent secara langsung melalui VG Markets serta aktifkan notifikasi menjelang keputusan The Fed pada hari Rabu.

Peringatan Risiko: Perdagangan CFD memiliki tingkat risiko yang tinggi dan dapat mengakibatkan hilangnya seluruh modal yang diinvestasikan. Produk yang ditawarkan oleh VG Markets mungkin tidak sesuai untuk semua investor.

Sumber: Rabobank Global Daily, EIA (2024), FXStreet.