USD/INR Turun ke 95,25 Setelah Trump Membatalkan Serangan ke Iran

USD/INR Turun ke 95,25 Setelah Trump Membatalkan Serangan ke Iran

Rupee India menguat tajam pada pembukaan perdagangan Jumat, mendorong USD/INR turun ke level 95,25 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Kamis malam bahwa ia membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Trump menyebut keputusan tersebut diambil setelah tercapainya terobosan dalam negosiasi perdamaian yang didukung oleh 11 negara kawasan dan sekutu Amerika Serikat.

Harga minyak mentah AS turun dari di atas US$92 menjadi sekitar US$88 hanya dalam waktu 90 menit setelah pernyataan Trump, memicu sentimen risk-on di pasar global dan mendorong penguatan mata uang negara berkembang. Rupee menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari perubahan sentimen tersebut.

Namun, reli ini terjadi setelah tekanan yang sangat besar pada pasar India dalam beberapa hari sebelumnya.

Pada 11 Juni, rupee sempat melemah 32 paise ke 95,57 karena lonjakan harga minyak dan meningkatnya arus keluar dana investor institusional asing (FII). Nilai tukar antarbank dibuka di 95,55 sebelum kembali melemah lebih lanjut. Bank Sentral India (RBI) dilaporkan melakukan intervensi melalui bank-bank milik negara untuk meredam volatilitas yang berlebihan.

Mengapa Harga Minyak Menjadi Faktor Terpenting bagi Rupee?

India mengimpor sekitar 85% kebutuhan minyak mentahnya, menjadikan rupee sebagai salah satu mata uang paling sensitif terhadap pergerakan harga minyak di Asia.

Mekanismenya cukup sederhana. Kenaikan harga minyak memperlebar defisit transaksi berjalan India, memberikan tekanan terhadap rupee, mendorong keluarnya dana asing yang ingin melindungi imbal hasil berbasis dolar AS, dan memperbesar tekanan jual pada indeks Sensex maupun Nifty. Proses ini menciptakan lingkaran yang saling memperkuat, di mana konflik geopolitik di luar negeri dapat dengan cepat berubah menjadi kerugian portofolio di dalam negeri.

Fenomena tersebut terlihat jelas sepanjang pekan ini.

Harga WTI naik 3,35% menjadi US$93,57 per barel, sementara Brent melonjak 3,54% menjadi US$96,39 per barel. Kenaikan tersebut memperbesar kekhawatiran mengenai biaya impor energi dan prospek inflasi India.

Indeks BSE Sensex turun 358 poin ke 73.624, sementara Nifty melemah 117 poin ke 23.098 pada perdagangan pagi 11 Juni sebelum pengumuman Trump membalikkan sentimen pasar.

Meskipun harga minyak kini telah turun menuju area US$88 per barel, kerentanan struktural rupee belum benar-benar hilang.

Arus Keluar Dana Asing Tetap Menjadi Hambatan Utama

Pemulihan rupee masih menghadapi tantangan besar dari sisi arus modal.

Investor institusional asing terus mencatat penjualan bersih sepanjang Juni. Total arus keluar dana FII pada 2026 telah mencapai rekor US$26,8 miliar.

Dalam salah satu sesi sebelumnya, rupee bahkan turun 28 paise ke 95,64 setelah muncul kekhawatiran tambahan terkait kebijakan tarif Amerika Serikat.

Data bursa menunjukkan bahwa pada hari Rabu saja, investor asing menjual saham secara bersih senilai Rs 2.124,98 crore.

Dinamika ini menunjukkan bahwa setiap upaya penguatan rupee kemungkinan akan menghadapi tekanan jual yang signifikan.

Investor institusional domestik (DII) memang telah membantu menyeimbangkan sebagian tekanan tersebut, sementara aliran dana SIP bulanan mencapai rekor tertinggi sepanjang 2026. Namun kemampuan mereka untuk menahan tekanan pasar memiliki batas apabila sentimen risiko global memburuk secara bersamaan.

Kesepakatan dengan Iran Belum Final

Yang lebih penting, situasi geopolitik masih jauh dari pasti.

Iran belum mengonfirmasi bahwa kesepakatan apa pun telah tercapai. Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyatakan bahwa blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan sampai “transaksi ini benar-benar diselesaikan.”

Seorang anggota parlemen garis keras Iran bahkan memperingatkan bahwa Trump mungkin sedang menggunakan taktik yang menyesatkan.

Sementara itu, Selat Hormuz — jalur yang dilalui sekitar 20% pengiriman minyak dunia — masih mengalami gangguan operasional.

Kondisi ini berarti harga minyak masih memiliki risiko kenaikan yang signifikan. Jika negosiasi gagal, harga Brent dapat kembali menuju US$95 per barel dan dengan cepat menghapus seluruh penguatan rupee yang terjadi hari ini.

Faktor yang Perlu Diperhatikan

Dua katalis utama akan menentukan apakah rupee mampu mempertahankan pemulihannya hingga akhir pekan.

Pertama, data inflasi AS (CPI) bulan Mei yang dirilis pada 10 Juni menunjukkan kenaikan 4,2% secara tahunan, tertinggi sejak April 2023. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve akan tetap bersikap hawkish, mendukung dolar AS dan membatasi potensi penguatan rupee.

Kedua, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dalam 48 jam ke depan akan menjadi faktor penentu terbesar bagi harga minyak dan, pada akhirnya, bagi arah rupee.

Bagi trader Asia Tenggara yang memiliki eksposur terhadap INR, penurunan USD/INR menuju 95,25 menawarkan peluang taktis yang menarik. Namun, untuk secara agresif mengikuti reli rupee, pasar masih membutuhkan konfirmasi bahwa proses perdamaian dan gencatan senjata dengan Iran dapat bertahan melewati akhir pekan.

Sumber Data: USD/INR – HDFC Sky dan data pasar antarbank (11 Juni 2026); Harga minyak mentah – Investing.com; Data arus keluar FII – NSE/BSE melalui The Week; Perkembangan Iran-Trump – CNN dan Washington Times; CPI AS – U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS).

Peringatan Risiko: Perdagangan valuta asing mengandung risiko yang signifikan dan dapat mengakibatkan hilangnya seluruh modal investasi. Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.