Indeks Dolar AS naik 0,2% menjadi 101,10 pada 7 Juli 2026 seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan geopolitik di samping ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Pergerakan ini terjadi setelah pemerintah Amerika Serikat mencabut salah satu lisensi utama yang berkaitan dengan ekspor minyak Iran.
Menurut Office of Foreign Assets Control (OFAC) di bawah Departemen Keuangan AS, pencabutan lisensi tersebut dilakukan setelah insiden keamanan terbaru yang melibatkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan bahwa dua kapal terkena proyektil yang belum teridentifikasi, sementara satu kapal lainnya diserang drone. Lembaga tersebut juga menaikkan tingkat ancaman di kawasan dari "substantial" menjadi "severe".
Perkembangan ini terjadi ketika pasar masih mengevaluasi risiko geopolitik dan prospek kebijakan Federal Reserve setelah laporan non-farm payrolls Amerika Serikat bulan Juni berada di bawah ekspektasi. Harga minyak juga bergerak lebih tinggi selama sesi perdagangan karena investor menilai potensi dampak ketegangan kawasan terhadap pasokan energi.
Perhatian pasar kini beralih ke risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang diharapkan memberikan informasi lebih lanjut mengenai pembahasan para pembuat kebijakan terkait inflasi, pasar tenaga kerja, dan prospek ekonomi. Pernyataan terbaru dari sejumlah pejabat Federal Reserve juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Di pasar valuta asing, euro turun 0,3% ke US$1,1411 meskipun data produksi industri Jerman lebih baik dari perkiraan. Sementara itu, USD/JPY diperdagangkan di sekitar 162,10, tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sementara yen juga melemah terhadap sejumlah mata uang utama.
Pelaku pasar akan mencermati risalah rapat Federal Reserve bulan Juni untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai penilaian bank sentral terhadap inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan prospek ekonomi. Bersama dengan perkembangan geopolitik yang sedang berlangsung, isi risalah tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat serta sentimen di pasar valuta asing.
