Bitcoin bertahan di atas level US$62.000 pada perdagangan Kamis setelah mengalami penurunan tajam sehari sebelumnya, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengikis minat investor terhadap aset berisiko serta menekan instrumen investasi spekulatif.

Mata uang kripto terbesar di dunia itu turun 0,6% menjadi US$62.275,9 pada pukul 01.31 ET. Sebelumnya pada pekan ini, Bitcoin sempat menguat hingga US$64.600 sebelum kembali terkoreksi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Sentimen risk-off mulai mendominasi pasar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa perjanjian perdamaian sementara dengan Iran telah diakhiri.
Aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran atas potensi terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent naik mendekati US$79 per barel, memicu kembali kekhawatiran inflasi sekaligus mengurangi harapan pasar terhadap penurunan suku bunga oleh bank-bank sentral dalam waktu dekat—kondisi yang kurang kondusif bagi aset kripto.
Dalam beberapa bulan terakhir, Bitcoin tetap menunjukkan korelasi yang kuat dengan aset berisiko, sehingga pergerakannya sangat sensitif terhadap perubahan sentimen yang dipicu oleh perkembangan geopolitik.
Bitcoin sempat turun di bawah level US$62.000 setelah pengumuman tersebut sebelum akhirnya kembali mendapat dukungan dari aksi beli saat harga melemah (buy on dip). Meski demikian, volume perdagangan secara keseluruhan masih relatif tipis.
Pelaku pasar juga menantikan arahan yang lebih jelas dari Federal Reserve (The Fed), setelah risalah rapat FOMC terbaru memperingatkan bahwa kenaikan inflasi energi akibat ketegangan di Timur Tengah dapat semakin mempersulit prospek kebijakan moneter.
Di sisi lain, saham-saham yang terkait dengan industri kripto turut mengalami tekanan, sejalan dengan pelemahan pasar aset digital. Investor juga terus mencermati arus dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, yang hingga kini masih menjadi pendorong utama tren Bitcoin sepanjang 2026.
