Harga minyak naik pada hari Minggu setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan baru di kawasan Teluk, dengan Teheran mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup "hingga pemberitahuan lebih lanjut". Brent mendekati US$79 per barel, memperpanjang kenaikan mingguan sebesar 5,4%, sementara WTI diperdagangkan di sekitar US$74 per barel. Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah klaim tersebut dengan menyatakan, "Iran tidak menguasai selat tersebut. Lalu lintas pelayaran tetap berlangsung."
Perkembangan terbaru:
- Iran menyerang Qatar untuk pertama kalinya sejak April dan menargetkan lokasi di UEA untuk pertama kalinya sejak Mei, memperluas cakupan geografis dari eskalasi sebelumnya.
- Pasukan AS melaporkan telah menyerang lebih dari 300 target Iran selama tiga malam berturut-turut.
- Iran melumpuhkan kapal komersial kedua pada hari Minggu setelah sebuah tembakan peringatan mengenai kapal lain pada hari Sabtu. Seorang warga negara India masih dinyatakan hilang setelah serangan terhadap kapal kontainer GFS Galaxy di lepas pantai Oman.
Perkembangan terkait Selat Hormuz: Ini merupakan sekitar klaim keempat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari bahwa Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sementara pemerintah AS membantah bahwa penutupan tersebut benar-benar diterapkan. Joint Maritime Information Center yang dipimpin AS menyatakan bahwa jalur selatan melalui Oman tetap terbuka untuk lalu lintas dua arah. Data pelacakan kapal terus memberikan informasi tambahan mengenai aktivitas pelayaran di samping pernyataan resmi, dengan lalu lintas yang sempat menurun selama gangguan sebelumnya sebelum pulih sebagian setelah periode deeskalasi.
Konteks pasar:
- Sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan LNG dunia melalui jalur laut melewati Selat Hormuz.
- Amerika Serikat mencabut izin ekspor minyak mentah Iran pada Selasa lalu setelah serangan terhadap kapal tanker sebelumnya, sehingga menambah faktor yang memengaruhi kondisi pasokan.
- Harga Brent masih berada di bawah puncak yang tercatat selama konflik pada April. Para analis mencatat bahwa kondisi pelayaran dapat tetap dipengaruhi oleh tingginya biaya asuransi risiko perang serta proses pembersihan ranjau laut meskipun ketegangan mereda.
Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan aktivitas pelayaran dan kondisi keamanan kawasan seiring dimulainya perdagangan di pasar Asia.
Sumber: Reuters, CNBC, Bloomberg, U.S. Central Command, Al Jazeera
