Kontrak berjangka canola di ICE melemah pada Selasa, dengan kontrak November turun C$7 menjadi C$803,20 per metrik ton, setelah para pelaku pasar dan petani melakukan aksi ambil untung ketika harga sempat mencapai level tertinggi kontrak di atas C$800 per ton.
Tiga faktor yang mendorong koreksi harga:
Aksi ambil untung setelah reli harga: Pelaku perdagangan komersial dan petani memanfaatkan harga yang menembus C$800 per ton untuk mengamankan tingkat penjualan yang lebih menguntungkan setelah reli yang kuat. Hal ini memicu koreksi teknikal dan bukan perubahan mendasar pada fundamental pasar.
Prospek tanaman secara umum tetap positif: Petani yang diwawancarai Reuters dalam sebuah pameran pertanian di Saskatchewan menyatakan bahwa tanaman canola di sebagian besar wilayah tumbuh dengan baik berkat cuaca hangat dan kelembapan tanah yang memadai. Namun, risiko penyakit akibat tingkat kelembapan udara yang tinggi masih terus dipantau karena dapat memengaruhi hasil panen pada akhir musim.
Pergerakan komoditas menunjukkan arah yang berbeda: Sementara harga canola melemah, minyak mentah Brent naik sekitar 2,5% karena kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah mulai mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah. Pada saat yang sama, minyak kedelai Chicago turun 0,69% dan kedelai turun 0,29%, menunjukkan bahwa aksi ambil untung terjadi di seluruh kompleks minyak nabati, bukan hanya pada pasar canola.
Prospek pasar
Laporan kondisi tanaman dari Saskatchewan dan Alberta yang akan dirilis dalam waktu dekat diperkirakan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai prospek produksi musim ini. Pelaku pasar juga akan terus memantau perkembangan di pasar energi, karena harga minyak yang tetap tinggi dapat memengaruhi permintaan terhadap bahan baku biofuel seperti canola dan minyak kedelai.
Sumber: Reuters; ICE Futures; Data pasar Investing.com.
