Yen Turun Melewati Level 163 ke Titik Terendah dalam 40 Tahun saat Risiko Harga Minyak Menekan Negara-Negara Pengimpor di Asia; Won Korea Selatan Bertahan Lebih Tangguh

Yen Turun Melewati Level 163 ke Titik Terendah dalam 40 Tahun saat Risiko Harga Minyak Menekan Negara-Negara Pengimpor di Asia; Won Korea Selatan Bertahan Lebih Tangguh

Yen Jepang melemah melewati level 163 per dolar AS pada Rabu, level terendah sejak 1986, seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan tingginya harga minyak yang mendukung dolar AS, sementara sebagian besar mata uang Asia Tenggara juga berada di bawah tekanan. USD/JPY sempat mencapai 163,24 sebelum turun tipis ke 163,17. Indeks Dolar melemah tipis ke 101,15 setelah sempat menembus level 101 semalam di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Tiga faktor utama yang memengaruhi pasar valuta asing Asia:

Yen melemah meski ada rencana pertumbuhan ekonomi: Rencana kebijakan "Honebuto no Hoshin" dari Perdana Menteri Sanae Takaichi menargetkan lebih dari ¥370 triliun (US$2,3 triliun) investasi publik dan swasta hingga tahun fiskal 2040, sekaligus menegaskan kembali independensi Bank of Japan (BOJ). Menurut Wei Liang Chang, FX and Credit Strategist di DBS, penegasan kembali independensi BOJ dapat mengurangi spekulasi bahwa bank sentral akan menunda penyesuaian kebijakan demi mendukung agenda fiskal pemerintah, sehingga membantu menjaga sentimen pasar terhadap yen meskipun mata uang tersebut masih menghadapi tekanan dari harga minyak yang tinggi dan penguatan dolar AS.

Negara-negara pengimpor minyak tetap berada di bawah tekanan: Serangan militer AS terhadap Iran yang memasuki malam ke-11 berturut-turut serta ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi terus menjaga harga minyak tetap tinggi, meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi di berbagai negara pengimpor minyak di Asia. Pergerakan regional menunjukkan USD/IDR naik 0,3%, USD/THB naik 0,4%, USD/INR naik 0,2%, dan USD/MYR naik 0,3%.

Won Korea Selatan mengungguli mata uang regional: USD/KRW hanya naik 0,2% menjadi 1.483,67, sementara won telah menguat sekitar 1,5% terhadap dolar AS selama enam bulan terakhir. Investor terus mencermati peta jalan internasionalisasi mata uang Korea Selatan, termasuk pengembangan pasar won di luar negeri, infrastruktur perdagangan 24 jam, dan pelonggaran regulasi devisa sebagai bagian dari upaya menuju status pasar maju MSCI dan masuk ke indeks obligasi global. Menurut DBS, penyempitan selisih suku bunga AS–Korea Selatan serta surplus perdagangan yang didorong oleh ekspor semikonduktor dapat terus mendukung won pada paruh kedua 2026.

Di sisi lain, AUD/USD bergerak stabil di sekitar 0,7001, sementara NZD/USD bertahan di kisaran 0,5827 setelah data inflasi pada Selasa memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of New Zealand pada September.

Prospek pasar

Keputusan kebijakan Bank Indonesia pada Rabu, diikuti rapat Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis serta pertemuan kebijakan Bank of Japan dan Federal Reserve pada pekan depan akan menjadi fokus utama pasar valuta asing Asia. Pelemahan yen dalam beberapa waktu terakhir tetap menjadi perhatian karena perannya sebagai salah satu mata uang pendanaan utama di pasar global, sementara won Korea Selatan menunjukkan perbedaan kinerja dibandingkan rupiah Indonesia, baht Thailand, dan ringgit Malaysia yang lebih terdampak oleh tingginya harga minyak.