CPI Mei AS Akankah Tembus 4%? Citadel Securities Peringatkan Risiko Kenaikan Suku Bunga Fed yang Semakin Dekat

CPI Mei AS Akankah Tembus 4%? Citadel Securities Peringatkan Risiko Kenaikan Suku Bunga Fed yang Semakin Dekat

Citadel Securities sebut tiga pendorong utama inflasi: kondisi tenaga kerja ketat, biaya energi tinggi, dan belanja modal AI


Wall Street telah meninggalkan semua taruhan pemotongan suku bunga 2026 setelah data penggajian yang lebih panas dari perkiraan mengguncang aset global. Riset BofA menunjukkan CPI di atas 4% secara historis memicu penurunan tajam pada S&P 500.


Peringatan inflasi tegas dari Citadel Securities


Citadel Securities, salah satu pembuat pasar terbesar di Wall Street, baru saja mengeluarkan peringatan inflasi yang tegas, menyatakan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan segera kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan harga yang terus meningkat.

Perusahaan tersebut mengaitkan tekanan inflasi yang terus berlanjut dengan tiga kekuatan makro utama: pasar tenaga kerja yang masih tangguh, harga energi yang tinggi, dan belanja modal besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI).


Nohshad Shah, Kepala Penjualan Pendapatan Tetap EMEA di Citadel Securities, menulis:


 "Langkah Fed selanjutnya kemungkinan besar adalah kenaikan suku bunga… dan itu bisa terjadi segera."


Tiga tekanan inflasi utama

  • Pasar tenaga kerja mendekati titik infleksi. Pasokan tenaga kerja yang ketat dan tingkat pengangguran yang rendah akan mendorong pertumbuhan upah melampaui batas toleransi Fed, menciptakan tekanan inflasi yang terus berlanjut.
  • Biaya energi akan tetap tinggi di tengah pembangunan kembali inventaris perusahaan dan diversifikasi rantai pasokan global.
  • Penolakan politik terhadap AI semakin meningkat menjelang pemilihan paruh waktu AS, karena kekhawatiran tentang kehilangan pekerjaan, konsumsi energi yang melonjak, dan dampak lanjutan terhadap inflasi.


Shah menegaskan: "AI tidak populer, dan inflasi juga tidak populer."


Pasar menanti data CPI


Para trader kini sangat fokus pada rilis CPI bulan Mei yang kritis pada hari Rabu, menyusul rilis penggajian yang eksplosif pekan lalu yang memicu volatilitas lintas aset yang tajam. Pasar khawatir data inflasi yang lebih panas dari perkiraan akan menghapus sisa harapan pemotongan suku bunga tahun 2026.


Harga pasar menunjukkan kenaikan CPI utama bulan Mei sekitar 4,3% secara tahunan, yang akan menandai pembacaan tertinggi sejak 2023. Harga minyak yang tetap tinggi akibat ketegangan geopolitik berkepanjangan di Timur Tengah tetap menjadi katalis utama untuk inflasi.



Wall Street cepat tinggalkan ekspektasi pemotongan suku bunga


Di seluruh Wall Street, bank-bank besar dengan cepat menarik kembali prospek pemotongan suku bunga 2026 mereka di tengah aktivitas tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi yang mengakar. Goldman Sachs secara resmi membatalkan semua perkiraan pelonggaran untuk tahun 2026 pada hari Jumat lalu, menggeser dua proyeksi pemotongan suku bunga terakhirnya ke Juni dan Desember 2027.


Michael Hartnett, ahli strategi investasi utama Bank of America dengan peringkat teratas, memperingatkan bahwa kalender makro bulan Juni yang padat mengandung risiko penurunan yang substansial bagi aset berisiko.


Skenario historis yang mengkhawatirkan


Hartnett menyoroti laporan CPI yang akan datang sebagai peristiwa pemicu kritis. Ia mencatat bahwa kenaikan CPI bulanan di atas 0,4% — di atas perkiraan konsensus 0,5% — akan mendorong inflasi tahunan di atas 4%.


Data historis selama seabad terakhir menunjukkan bahwa setelah CPI AS menembus ambang batas 4%, S&P 500 rata-rata turun 4% dalam tiga bulan dan turun 7% dalam enam bulan.