Menurut Torsten Slok, Kepala Ekonom Apollo Global Management, dolar AS berpotensi kehilangan momentum penguatannya jika saham AI terus melemah.
Kekuatan greenback kini terkait erat dengan kinerja saham teknologi kecerdasan buatan di AS.
Dalam setahun terakhir, investor asing mengalirkan modal dalam jumlah rekor ke pasar saham AS, sebagian besar didorong oleh optimisme terhadap pertumbuhan AI.
Sebagian besar investor asing ini memilih untuk tidak melakukan lindung nilai atas eksposur dolar mereka, membuat posisi mereka sepenuhnya bergantung pada kekuatan pasar AS yang berkelanjutan.
Posisi tanpa lindung nilai ini berarti dolar AS telah menjadi sangat bergantung pada booming AI.

Jika sentimen terkait AI memudar dan investor menarik diri dari saham AS, perlambatan arus masuk modal asing akan memberikan tekanan langsung pada dolar AS dan memicu koreksi penurunan yang signifikan.
Rally AI telah menjadi pendorong utama kekuatan dolar AS sepanjang tahun 2026.
Untuk membeli saham AI dan teknologi AS, investor asing harus mengkonversi mata uang lokal mereka ke dolar AS, menciptakan permintaan yang stabil untuk greenback.
Selain itu, suku bunga AS yang tinggi membuat lindung nilai mata uang menjadi terlalu mahal bagi sebagian besar dana asing, membuat dolar AS semakin sensitif terhadap fluktuasi pasar saham.
Saham AS telah tersendat setelah mencetak rekor tertinggi pada awal Juni.
Investor mulai berhati-hati terhadap belanja infrastruktur AI yang masif, karena keuntungan dari investasi AI masih belum pasti.
Setiap aksi jual besar-besaran di saham AI dapat memicu pelemahan simultan pada dolar AS.
Namun demikian, dolar AS masih memiliki dukungan jangka pendek yang solid.
Pasar memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September.
Dibandingkan dengan ekonomi besar lainnya, AS menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih kuat, membuat Fed lebih cenderung mengetatkan kebijakan daripada bank sentral global lainnya.
Indeks Dolar Bloomberg Spot telah naik 1,4% sejauh tahun ini, memberi tekanan pada mata uang seperti yen Jepang dan dolar Kanada.
Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Fed terus menopang dolar AS, ketergantungan barunya pada sentimen pasar AI yang volatil telah menciptakan risiko penurunan yang jelas bagi rally yang sedang berlangsung.
