Harga emas diperdagangkan di sekitar US$4.192 pada awal sesi Eropa hari Jumat, terjebak di antara dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, pengumuman Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan terhadap Iran membantu emas bangkit dari level terendah enam bulan di sekitar US$4.023. Di sisi lain, kejutan inflasi ganda dari CPI sebesar 4,2% dan PPI sebesar 6,5% memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, sehingga menopang dolar AS dan membatasi kenaikan emas.
Logam mulia ini kini berada di jalur menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Kesepakatan Iran: Optimisme yang Terus Dipertanyakan
Pergerakan harga pada hari Kamis menunjukkan pasar sangat ingin mempercayai skenario perdamaian, tetapi belum cukup yakin untuk sepenuhnya memperhitungkannya ke dalam harga.
Harga emas melonjak 3,5% ke US$4.212 setelah Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan yang berpotensi ditandatangani akhir pekan ini, yang akan membuka kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Namun reli tersebut tidak bertahan lama.
Sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan kesepakatan damai AS-Iran kembali meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa sejumlah isu utama, termasuk akses ke Selat Hormuz dan dana Iran yang dibekukan, masih belum terselesaikan.
Selain itu, pasukan Iran dilaporkan menghentikan sebuah kapal tanker yang mencoba melintasi jalur tersebut tanpa koordinasi. Militer AS juga mencegat dan menembak jatuh dua drone serang sekali pakai milik Iran di dekat Selat Hormuz.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa risiko militer belum sepenuhnya hilang meskipun terdapat sinyal diplomatik yang positif.
Iran sendiri belum mengonfirmasi bahwa kesepakatan apa pun telah tercapai. Trump juga menyatakan bahwa blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga “transaksi ini benar-benar diselesaikan.”
Sampai Selat Hormuz kembali dibuka secara nyata dan berkelanjutan, harga minyak dan tekanan inflasi global sulit untuk mereda secara signifikan. Kondisi tersebut tetap menjadi hambatan bagi emas.
Kejutan Inflasi Ganda: CPI dan PPI Sama-Sama Melampaui Perkiraan
Dua laporan inflasi yang dirilis minggu ini telah mengubah narasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve.
CPI AS bulan Mei tercatat sebesar 4,2% secara tahunan, tertinggi sejak April 2023. Kemudian pada hari Kamis, PPI naik 1,1% secara bulanan dan 6,5% secara tahunan, menjadi kenaikan terbesar sejak November 2022.
Sekitar 80% dari kenaikan tersebut berasal dari lonjakan 2,8% harga barang untuk permintaan akhir, kenaikan bulanan terbesar sejak seri data ini dimulai pada Desember 2009.
Bart Melek dari TD Securities mengatakan:
"Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akibat guncangan pasokan negatif telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, menjaga dolar AS tetap kuat, dan membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada akhir 2026."
Bagi emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil dan diperdagangkan dalam dolar AS, kombinasi dolar yang kuat dan suku bunga yang lebih tinggi merupakan faktor bearish dalam jangka pendek.
Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, sementara kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas dibandingkan aset yang menghasilkan imbal hasil.
Fondasi Permintaan yang Menjaga Emas di Atas US$4.000
Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, emas masih didukung oleh permintaan struktural yang kuat.
Bank-bank sentral membeli bersih 244 ton emas pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan di atas rata-rata lima tahun.
Menurut World Gold Council, angka tersebut menunjukkan komitmen berkelanjutan untuk memperkuat cadangan devisa di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pembelian ini bersifat strategis dan tidak terlalu sensitif terhadap harga, sehingga memberikan dukungan yang konsisten bagi pasar terlepas dari perubahan ekspektasi suku bunga jangka pendek.
Level terendah terbaru di US$4.026 dan area psikologis US$4.000 menjadi titik di mana permintaan struktural ini paling terlihat.
Penembusan yang jelas di bawah US$4.000 akan menjadi sinyal teknikal yang sangat penting dan dapat membuka jalan menuju level terendah Oktober 2025 di US$3.886. Namun, skenario tersebut membutuhkan memburuknya situasi Iran sekaligus penguatan dolar AS secara berkelanjutan.
Level Penting dan Fokus Pasar Selanjutnya
Di sisi bawah, US$4.026 merupakan support terdekat, sementara US$4.000 menjadi level psikologis utama. Jika level tersebut ditembus, target berikutnya berada di US$3.886.
Di sisi atas, level Fibonacci retracement 23,6% di sekitar US$4.229 telah membatasi upaya pemulihan selama sesi Asia hari Jumat.
Untuk membangun pemulihan yang lebih kuat, emas perlu kembali menembus SMA 200 hari di area US$4.443–US$4.450, yang juga bertepatan dengan retracement 50% dari penurunan sejak puncak harga bulan April.
Dua peristiwa utama akan mendominasi prospek jangka pendek:
- Data awal Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk bulan Juni yang dirilis hari ini akan memberikan gambaran apakah konsumen AS mulai memperkirakan inflasi yang lebih tinggi.
- Yang lebih penting adalah keputusan FOMC pada 17 Juni. Dengan CME FedWatch kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sebesar 72%, keputusan tersebut akan menentukan apakah tekanan saat ini pada emas hanyalah koreksi sementara atau awal dari proses repricing yang lebih besar.
Sumber Data: Harga emas – Investing.com dan FXStreet (11 Juni 2026); CPI dan PPI AS Mei 2026 – Bureau of Labor Statistics (BLS); Permintaan emas bank sentral Q1 2026 – World Gold Council; Perkembangan kesepakatan Iran – CNN dan ABC News; Komentar TD Securities – Mitrade/FXStreet.
Peringatan Risiko: Perdagangan logam mulia mengandung risiko yang signifikan dan dapat mengakibatkan hilangnya seluruh modal investasi. Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.
