Harga Minyak Bertahan di Sekitar US$73 Saat Pasar Mencermati Perkembangan di Timur Tengah

Harga Minyak Bertahan di Sekitar US$73 Saat Pasar Mencermati Perkembangan di Timur Tengah

Minyak mentah Brent diperdagangkan di sekitar US$73 per barel pada Kamis setelah mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak 2020, sementara investor terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta membaiknya kondisi pasokan minyak di kawasan tersebut.

Menurut catatan riset dari analis Rabobank Michael Every, sejumlah laporan media baru-baru ini mengindikasikan adanya pembahasan lanjutan mengenai isu keamanan dan diplomatik yang melibatkan Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Iran. Laporan tersebut juga mengacu pada pemberitaan mengenai koordinasi keamanan regional, meskipun informasi tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi pada saat artikel ini ditulis.

Rabobank menyatakan bahwa dialog tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran terus berlangsung di Doha pada pekan ini dengan tujuan mempertahankan pengaturan gencatan senjata yang dibentuk melalui Memorandum of Understanding (MoU) pada Juni. Laporan tersebut juga menyoroti bahwa pembahasan mengenai penggunaan aset Iran yang dibekukan masih berlangsung dan belum mencapai penyelesaian.

Catatan riset itu juga menyebutkan bahwa para pejabat Amerika Serikat menggambarkan kesepakatan saat ini sebagai pengaturan sementara, bukan penyelesaian akhir. Sementara itu, perkembangan kerja sama keamanan regional di Timur Tengah tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Di pasar energi, investor terus memantau kemajuan diplomasi serta potensi risiko terhadap pasokan minyak. Menurut data Kpler, ekspor minyak dari kawasan Teluk telah pulih secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, sehingga membantu mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak. Namun, meningkatnya kembali ketegangan regional dapat memicu volatilitas harga energi.

Bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi di Asia, termasuk India, Indonesia, dan Thailand, perkembangan yang memengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap penting karena dapat berdampak pada biaya pengiriman, premi asuransi, serta biaya impor energi secara keseluruhan.

Sumber: Rabobank (Michael Every), Kpler, International Energy Agency (IEA), TradingEconomics. Artikel ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.