Harga minyak Brent naik 3,24% menjadi US$76,56 per barel pada 8 Juli 2026 setelah muncul laporan mengenai serangan rudal dan drone yang melibatkan Iran serta fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Perkembangan tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko geopolitik dan turut mendorong kenaikan harga energi selama sesi perdagangan.
Menurut pernyataan resmi, eskalasi terbaru terjadi setelah operasi militer Amerika Serikat terhadap target-target Iran menyusul serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut menangani sekitar 20% pengiriman minyak dunia sehingga memiliki peran penting dalam perdagangan energi global. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dan pejabat Iran juga menyampaikan pernyataan masing-masing terkait operasi militer yang berlangsung.
Secara terpisah, Departemen Keuangan Amerika Serikat mencabut lisensi umum yang diterbitkan pada 22 Juni dan sebelumnya mengizinkan kegiatan tertentu terkait ekspor minyak mentah serta produk petrokimia Iran hingga 21 Agustus. Transaksi yang telah memperoleh izin dijadwalkan diselesaikan paling lambat 17 Juli. Perubahan kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar karena memengaruhi kerangka regulasi bagi sebagian ekspor minyak Iran.
Pernyataan dari sejumlah pejabat internasional juga mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan dukungannya terhadap respons Amerika Serikat, sementara pejabat senior Iran kembali menyampaikan posisi pemerintah melalui pernyataan publik.
Pelaku pasar terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, pengumuman kebijakan resmi, serta perkembangan diplomatik karena faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi pasar energi di samping kondisi ekonomi global yang lebih luas.
