Pasar obligasi pemerintah Indonesia berpotensi mencatat aliran masuk asing bulanan terkuat sejak Mei 2025, karena pengetatan moneter yang agresif mendorong imbal hasil lokal lebih tinggi dan memikat modal asing kembali untuk menopang rupiah.
Data pemerintah menunjukkan investor asing mencatat pembelian bersih USD 1,2 miliar pada utang negara hingga 26 Juni, menempatkan pasar pada jalur menuju puncak aliran masuk bulanan dalam 12 bulan.
"Meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia kembali menarik perhatian investor global," komentar Eugene Leow, Ahli Strategi Suku Bunga Senior di DBS Bank Singapore. "Selain itu, kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang konsisten untuk menstabilkan rupiah terhadap dolar AS yang merajalela semakin meningkatkan daya tarik aset pendapatan tetap rupiah."
Pembalikan modal berasal dari siklus pengetatan yang dilakukan Bank Indonesia. Setelah kenaikan 50 bps di luar siklus pada bulan Mei, bank sentral memberikan kejutan kenaikan 25 bps lainnya pada 9 Juni, menaikkan BI Rate acuan menjadi 5,50%. Langkah ini mendorong imbal hasil obligasi acuan 10 tahun dari 7,1% menjadi 7,3%, memperlebar selisih imbal hasil dengan obligasi negara maju.
Data resmi menunjukkan permintaan asing pulih segera setelah kenaikan suku bunga. Dalam dua hari setelah keputusan suku bunga Juni, lebih dari USD 1,06 miliar mengalir ke sekuritas SRBI dan obligasi pemerintah, dengan pembeli asing sangat fokus pada tenor jangka pendek dan menengah. Untuk menarik lebih banyak dana, BI juga meluncurkan penyesuaian pendukung termasuk biaya lindung nilai valas yang lebih rendah dan lelang SRBI dua kali seminggu untuk mempertahankan imbal hasil lokal yang tinggi.
Arus masuk obligasi yang kuat menandai pembalikan tajam dari arus keluar portofolio yang persisten di Q1. Arus masuk asing kumulatif ke pendapatan tetap Q2 telah mencapai USD 3,37 miliar, meskipun ekuitas masih menghadapi tekanan jual luar negeri yang stabil. Analis menandai bahwa imbal hasil carry yang kuat tetap menjadi daya tarik inti, bahkan ketika risiko geopolitik dari Timur Tengah menjaga dukungan luas USD tetap utuh.
Pengamat pasar menilai pergeseran modal ini sebagai sinyal positif bahwa bauran kebijakan Jakarta — imbal hasil yang lebih tinggi dipasangkan dengan langkah-langkah pertahanan mata uang — telah memulihkan kepercayaan pada aset Indonesia, meletakkan dasar bagi pemulihan yang lebih luas di seluruh pasar keuangan lokal.
