Indeks Dolar AS (DXY) memperpanjang pelemahannya untuk sesi kedua berturut-turut pada Jumat, diperdagangkan di sekitar level 100,60 pada awal sesi Eropa. Meski demikian, grafik harian masih menunjukkan indeks bergerak di dalam saluran naik yang lebih luas—sebuah pola yang dapat terus mendukung prospek teknikal yang konstruktif dalam jangka menengah.
Gambaran Teknikal: Tren Naik Masih Bertahan, Namun Momentum Mulai Melemah
DXY tetap berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 50 hari, yang secara umum dipandang masih mendukung tren kenaikan yang lebih luas. Hambatan terdekat berada pada EMA 9 hari di level 100,99, yang telah membatasi reli jangka pendek. Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 54,2—sedikit di atas ambang netral 50—yang umumnya diinterpretasikan sebagai sinyal momentum bullish moderat tanpa menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought). Bagi pelaku pasar, pembacaan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga yang cenderung berada dalam kisaran tertentu dalam jangka pendek mungkin lebih mungkin terjadi dibandingkan penembusan yang tegas.
Level-Level Penting yang Perlu Diperhatikan
Skenario kenaikan: Jika DXY mampu bertahan di atas level 100,99, kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang untuk menguji kembali level 101,80, yaitu level tertinggi dalam sekitar 14 bulan yang tercatat pada 24 Juni. Sementara itu, batas atas saluran di sekitar 102,30 dapat menjadi area resistensi teknikal berikutnya.
Skenario penurunan: Dukungan awal berada di batas bawah saluran, sekitar level 100,30, yang diperkuat oleh EMA 50 hari di level 99,93. Jika harga turun di bawah kedua level tersebut, prospek teknikal saat ini dapat melemah dan mengarahkan perhatian pasar ke level terendah empat bulan di 97,62 yang tercatat pada 6 Mei.
Pendorong Makro: Penyesuaian Ekspektasi terhadap Kebijakan The Fed
Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve, baru-baru ini mengatakan dalam Forum ECB bahwa ekspektasi inflasi yang mulai mereda telah mengurangi tekanan untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat, menurut data dari Trading Economics.
Sejak itu, penetapan harga di pasar telah menurunkan probabilitas tersirat kenaikan suku bunga pada September menjadi sekitar 50%, dari sekitar 64% pada sesi sebelumnya, setelah data nonfarm payrolls (NFP) bulan Juni menunjukkan penambahan hanya 57.000 lapangan kerja—lebih rendah dari ekspektasi pasar—sementara data bulan-bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah.
Mengapa Hal Ini Penting bagi Trader di Asia Tenggara
Pelemahan DXY dapat membantu mengurangi tekanan pendanaan atas utang berdenominasi dolar AS di berbagai negara ASEAN dan berpotensi memberikan dukungan bagi mata uang regional serta pasar saham, terutama di Indonesia dan Filipina.
Dengan DXY saat ini bergerak dalam kisaran 100,30 hingga 100,99, rentang tersebut dapat menjadi acuan penting bagi pergerakan jangka pendek pasangan mata uang USD/ASEAN, seiring pelaku pasar juga mencermati revisi data ketenagakerjaan serta komentar lanjutan dari para pejabat Federal Reserve.
Analisis teknikal mengacu pada data grafik FXStreet, sementara data makroekonomi bersumber dari Trading Economics. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.
