Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di sekitar 99,80 pada sesi Asia hari Jumat, pulih setelah sempat turun ke 99,66 pada hari Kamis akibat optimisme terkait kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemulihan ini mencerminkan pola yang telah mendominasi pergerakan DXY selama dua minggu terakhir: dolar melemah ketika berita diplomatik mendominasi pasar, namun kembali menguat ketika realitas militer kembali menjadi fokus.
Terdapat tiga faktor utama yang saat ini menopang dolar AS menjelang rilis data Sentimen Konsumen Universitas Michigan.
Faktor Pertama: Kesepakatan Iran Tidak Seindah yang Terlihat Semalam
Penurunan DXY sebesar 0,42% pada Kamis malam dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengatakan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan dan berpotensi menandatanganinya akhir pekan ini.
Namun optimisme tersebut mulai memudar pada Jumat pagi karena dua perkembangan penting.
1. Ketegangan Militer Masih Berlangsung
Pasukan AS mencegat dan menembak jatuh dua drone serang Iran di dekat Selat Hormuz setelah Iran diduga mencoba menargetkan kapal-kapal komersial yang melintas.
Peristiwa ini secara langsung bertentangan dengan narasi perdamaian yang sebelumnya menekan dolar.
2. Iran Belum Mengonfirmasi Kesepakatan
Pemerintah Iran menyatakan bahwa sejumlah isu penting masih belum terselesaikan, termasuk:
- Akses ke Selat Hormuz
- Dana Iran yang masih dibekukan
Ekonom DBS Group Research, Philip Wee, menggambarkan situasi ini dengan tepat:
“Konsolidasi ketat DXY mencerminkan volatilitas negosiasi AS-Iran yang terus berubah. Dolar biasanya tertekan ketika muncul harapan kesepakatan, tetapi kembali menguat ketika kedua pihak mengecewakan pasar.”
Saat ini Selat Hormuz masih belum benar-benar dibuka kembali, tekanan inflasi energi tetap tinggi, dan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar kembali meningkat.
Faktor Kedua: PPI 6,5% Memperkuat Narasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Selain faktor geopolitik, data inflasi terbaru juga memberikan dukungan kuat bagi dolar AS.
PPI AS bulan Mei naik:
- 1,1% dibanding bulan sebelumnya
- 6,5% dibanding tahun sebelumnya
Ini merupakan kenaikan tahunan terbesar sejak November 2022.
Hampir 80% kenaikan berasal dari lonjakan 2,8% harga barang final demand, kenaikan bulanan terbesar sejak seri data dimulai pada tahun 2009.
Data ini muncul hanya sehari setelah CPI AS mencapai 4,2%, level tertinggi dalam tiga tahun.
Akibatnya, pasar kembali menyesuaikan ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Menurut CME FedWatch:
- Peluang kenaikan suku bunga Fed pada Desember mencapai 43%
- Sebulan lalu hanya 14%
Target suku bunga Fed saat ini berada pada kisaran 3,50%–3,75%.
Walaupun Fed diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan 17 Juni, pasar lebih fokus pada peluang kenaikan di akhir tahun.
Mengapa Ini Positif untuk Dolar?
Suku bunga yang tinggi lebih lama mendukung dolar melalui dua jalur:
- Meningkatkan selisih imbal hasil antara aset AS dan negara lain.
- Memperkuat keyakinan bahwa Fed belum siap melakukan pelonggaran kebijakan.
Faktor Ketiga: ECB Baru Saja Menaikkan Suku Bunga
Bank Sentral Eropa (ECB) baru saja menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.
ECB menyatakan bahwa risiko inflasi yang meningkat akibat ketidakpastian geopolitik membuat pengetatan kebijakan tidak dapat ditunda lagi.
Saat ini:
- Suku bunga deposito ECB: 2,0%
- Suku bunga Fed: 3,50%–3,75%
Artinya, selisih suku bunga masih menguntungkan dolar AS.
Bagi trader DXY, kenaikan suku bunga ECB tidak otomatis menjadi sentimen negatif bagi dolar karena ECB masih berada di tahap awal siklus pengetatan, sementara pasar justru mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Fed berikutnya.
Data Penting Hari Ini: Sentimen Konsumen Universitas Michigan
Laporan awal Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk bulan Juni akan menjadi data utama yang diperhatikan pasar hari ini sebelum pertemuan FOMC pada 17 Juni.
Fokus utama investor adalah:
Ekspektasi Inflasi Satu Tahun ke Depan
Pada Mei 2025, indikator ini turun dari 6,6% menjadi 5,0%, menandakan konsumen mulai kurang khawatir terhadap inflasi.
Jika data Juni kembali meningkat, sejalan dengan lonjakan CPI dan PPI, hal itu akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dan berpotensi mendorong DXY menuju area 100,00–100,13.
Sebaliknya, jika ekspektasi inflasi turun secara mengejutkan, mungkin karena optimisme terhadap kesepakatan Iran, kenaikan dolar dapat tertahan dan sentimen risiko global bisa membaik.
Yang Perlu Diperhatikan Trader Asia Tenggara
Bagi trader yang memiliki eksposur:
- Posisi short USD
- USD/MYR
- USD/SGD
- USD/IDR
rilis data Sentimen Konsumen Michigan hari ini menjadi katalis jangka pendek paling penting sebelum pasar memasuki akhir pekan yang dipenuhi ketidakpastian terkait negosiasi AS-Iran.
Peringatan Risiko: Perdagangan valuta asing mengandung risiko tinggi dan dapat menyebabkan hilangnya seluruh modal investasi. Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.
