Harga perak mencatat pembalikan intraday yang tajam pada hari Kamis, naik lebih dari 4% dari level terendah 11 minggu di US$61,51 hingga diperdagangkan di sekitar US$65,91.
Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan militer terhadap Iran, dengan alasan bahwa poin-poin akhir dari perjanjian perdamaian telah disetujui.
Meski berhasil membawa perak keluar dari kondisi oversold terdalam sejak Maret, pemulihan ini masih terlihat rapuh karena harga tetap tertahan di bawah SMA 200 hari dan dibayangi oleh inflasi yang tinggi serta sinyal yang saling bertentangan dari Iran.
Apa yang Memicu Reli?
Perak bangkit dari level terendah 11 minggu berkat karakteristik uniknya sebagai aset safe haven sekaligus komoditas industri penting.
Inilah yang membedakan pergerakan perak dari reli emas sebesar 3,5% pada hari yang sama.
Sebagai Aset Safe Haven
Perak mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS.
Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,42% ke level 99,66 setelah optimisme mengenai kesepakatan damai mendorong investor mengurangi posisi safe haven pada dolar.
Karena perak diperdagangkan dalam dolar dan tidak memberikan imbal hasil, pelemahan dolar secara langsung mendukung kenaikan harga perak.
Sebagai Logam Industri
Selain faktor moneter, perak juga mendapat dorongan dari prospek membaiknya permintaan industri.
Jika kesepakatan damai Iran benar-benar terwujud, Selat Hormuz dapat dibuka kembali sehingga mengurangi gangguan rantai pasokan global, menurunkan biaya energi, dan memperbaiki kondisi bagi sektor manufaktur.
Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan perak dari industri elektronik, panel surya, dan kendaraan listrik.
Sementara itu, pertumbuhan permintaan dari pusat data AI, perangkat transmisi berkecepatan tinggi, dan elektronik otomotif juga tetap kuat.
Karena kedua faktor tersebut bekerja secara bersamaan, reli perak berlangsung cepat dan cukup besar.
Mengapa Pemulihan Ini Masih Rapuh?
1. Situasi Diplomatik Belum Jelas
Optimisme pasar mengenai kesepakatan damai masih belum didukung oleh fakta yang kuat.
Pasukan AS dilaporkan mencegat dan menembak jatuh dua drone serang Iran di dekat Selat Hormuz setelah diduga mencoba menyerang kapal dagang.
Media Iran juga melaporkan ledakan di wilayah Sirik yang terkait dengan konfrontasi terhadap kapal yang memasuki jalur perairan tersebut.
Dengan kondisi seperti ini, kesepakatan damai masih belum dapat dianggap pasti.
2. Inflasi Masih Mendukung Narasi Kenaikan Suku Bunga Fed
PPI AS bulan Mei naik 6,5% secara tahunan, tertinggi sejak November 2022.
PPI inti meningkat 4,9%, masih jauh di atas tingkat yang dianggap nyaman oleh Federal Reserve.
Setelah CPI mencapai 4,2% sehari sebelumnya, pasar kini memperkirakan peluang 72% untuk kenaikan suku bunga Fed pada Desember.
Bagi perak, kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lama merupakan hambatan karena:
- Mendukung penguatan dolar AS.
- Meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti perak.
3. Permintaan dari Industri Surya Melemah
Ini merupakan tantangan khusus bagi pasar perak.
Menurut World Silver Survey 2026, penggunaan perak dalam industri panel surya diperkirakan turun 19% pada tahun 2026 menjadi sekitar 151 juta ons.
Produsen panel surya terus mengurangi kandungan perak per panel untuk menekan biaya produksi.
Akibatnya, fondasi permintaan industri yang biasanya menopang harga perak menjadi lebih lemah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Gambaran Teknikal: Rebound Terjadi, Namun Tren Belum Berubah
Reli hari Kamis harus dilihat dalam konteks tren yang lebih besar.
Perak masih berada di bawah SMA 200 hari di US$68,31, yang menjadi batas penting antara rally dalam tren turun dan pembalikan tren yang sesungguhnya.
RSI memang telah keluar dari wilayah oversold, menandakan masuknya pembeli di sekitar US$61,50.
Namun RSI masih berada di bawah level netral 50, yang menunjukkan momentum bearish masih dominan.
Level Penting yang Perlu Diperhatikan
Resistensi:
- US$67,00
- SMA 200 hari di US$68,31
- US$70,00
Support:
- US$61,50
- US$60,00
- US$54,39 (puncak November 2025 yang kini menjadi support)
Rasio Emas/Perak saat ini berada di level 63,9, tertinggi sepanjang tahun 2026.
Hal ini menunjukkan bahwa perak masih tertinggal dibanding emas selama fase koreksi terakhir.
Secara historis, rasio setinggi ini sering mendahului periode ketika perak mulai mengungguli emas, tetapi biasanya memerlukan katalis yang benar-benar terkonfirmasi, bukan sekadar harapan diplomatik.
Faktor yang Perlu Diperhatikan
Data awal Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk bulan Juni akan menjadi perhatian pasar berikutnya.
Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, dolar dapat menguat kembali dan membatasi kenaikan perak.
Yang lebih penting adalah konfirmasi resmi terhadap kesepakatan AS-Iran selama akhir pekan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.
Peristiwa tersebut berpotensi mengubah reli short-covering saat ini menjadi tren naik yang lebih berkelanjutan.
Silver Institute memperkirakan pasar perak akan mengalami defisit pasokan tahunan keenam berturut-turut pada 2026, dengan kekurangan sekitar 46,3 juta ons.
Namun defisit pasokan saja tidak cukup untuk mencegah penurunan harga ketika tekanan makroekonomi masih mendominasi.
Selama narasi kebijakan Fed belum berubah dan Selat Hormuz belum benar-benar dibuka kembali, jalur dengan resistensi paling rendah bagi perak masih cenderung bergerak sideways hingga melemah, meskipun sesekali terjadi reli tajam akibat perkembangan berita.
Peringatan Risiko: Perdagangan logam mulia mengandung risiko tinggi dan dapat mengakibatkan hilangnya seluruh modal investasi. Konten ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.
