Lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat pada hari Selasa, dengan sebagian besar pelayaran yang teridentifikasi terkait dengan perdagangan Iran, menjelang langkah-langkah baru yang diumumkan Amerika Serikat pada hari Rabu. Data terbaru memberikan gambaran mengenai aktivitas pelayaran di salah satu jalur energi terpenting dunia yang biasanya menangani sekitar 20% pengiriman minyak dan LNG global.
Aktivitas pelayaran
- Sebanyak 11 kapal melintasi Selat Hormuz, termasuk 9 kapal yang menggunakan jalur pelayaran Iran.
- Tiga kapal tanker kosong memasuki kawasan, terdiri atas satu Aframax dan dua VLCC.
- Kapal yang keluar mencakup satu VLCC yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah Iran, satu kapal produk minyak olahan ukuran menengah, serta dua kapal LPG.
- Muatan lain yang meninggalkan kawasan meliputi satu kapal metanol dan satu kapal curah yang membawa bijih besi.
- Data yang tersedia tidak menunjukkan adanya pelayaran dari produsen Teluk selain Iran selama periode pelaporan.
Pasar minyak spot Timur Tengah memasuki kondisi backwardation, di mana harga kontrak jangka dekat diperdagangkan lebih tinggi daripada kontrak bulan berikutnya. Struktur harga ini umumnya dipandang sebagai indikasi pasokan jangka pendek yang lebih ketat.
Karena sekitar 20% perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz, gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi rantai pasok LNG di Asia, termasuk negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor LNG.
Goldman Sachs menyatakan bahwa sekalipun ketegangan geopolitik mereda, pemulihan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk kemungkinan berlangsung secara bertahap karena operator masih mengevaluasi risiko keamanan setelah insiden terhadap kapal tanker.
