USD/JPY diperdagangkan dalam fase konsolidasi bullish yang sempit tepat di atas 161,50 pada sesi Asia hari Selasa, mendekati level tertinggi 40 tahun di sekitar 162,00 yang tercatat pada Juli 2024. Pasangan ini terjebak antara dua kekuatan berlawanan: penguatan struktural dolar AS serta melebar-nya selisih suku bunga AS–Jepang di satu sisi, dan meningkatnya risiko intervensi dari Jepang di sisi lain.
Risiko intervensi menjadi fokus utama
Otoritas Jepang meningkatkan pernyataan verbal untuk membela yen dengan urgensi yang tidak biasa. Media TBS melaporkan bahwa Menteri Keuangan Katayama mengadakan pertemuan online dengan Menteri Keuangan AS Bessent untuk membahas pelemahan yen dan kemungkinan intervensi terkoordinasi. Sekretaris Kabinet Minoru Kihara juga memperingatkan bahwa pemerintah siap mengambil “tindakan yang sesuai” jika pergerakan FX dianggap berlebihan.
Sinyal ini memiliki bobot besar. Intervensi Jepang sebelumnya — terakhir pada 2024 — menunjukkan bahwa Tokyo bersedia menggunakan cadangan devisa dalam jumlah besar untuk mempertahankan level penting. Area 160,50–160,60 yang sebelumnya memicu intervensi kini telah ditembus dan berubah menjadi support struktural, meningkatkan risiko saat USD/JPY mendekati 162,00. Pergerakan di atas level tersebut dapat memicu respons kebijakan langsung, bukan hanya peringatan verbal.
Faktor struktural masih mendukung kenaikan
Meski risiko intervensi meningkat, fundamental masih condong ke arah bullish USD/JPY. Dolar AS tetap berada di dekat level tertinggi sejak Mei 2025, didukung oleh sikap hawkish The Fed dengan ekspektasi minimal satu kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, serta kebijakan pengetatan September yang sudah sepenuhnya diperkirakan pasar menurut CME FedWatch. Jepang di sisi lain masih menjalankan kebijakan moneter paling longgar di G10, menjaga selisih suku bunga tetap lebar dan mendukung carry trade yang menekan yen.
Risiko geopolitik juga memperlemah yen. Gangguan pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan kerentanan Jepang sebagai importir energi besar. Hal ini mengurangi daya tarik yen sebagai safe haven, sementara aliran dana safe haven ke dolar AS justru tetap kuat. Dalam 30 hari terakhir, JPY melemah 1,66% terhadap USD dan melemah terhadap hampir semua mata uang utama lainnya kecuali NZD.
Gambaran teknikal: overbought tetapi tren bullish masih utuh
Struktur teknikal USD/JPY menunjukkan tren naik yang matang namun masih utuh. Breakout di atas area 160,50–160,60 (zona intervensi sebelumnya) serta pantulan dari EMA 200 hari menjaga struktur bullish tetap valid. MACD masih positif di atas garis nol, mendukung momentum naik.
Namun RSI 14 hari di sekitar 70 menunjukkan kondisi overbought, yang biasanya diikuti konsolidasi atau koreksi jangka pendek, bukan pembalikan tren. Ini lebih merupakan sinyal kehati-hatian untuk posisi baru, bukan sinyal untuk melawan tren.
Support pertama berada di 160,50–160,60, sementara EMA 200 hari di 156,47 menjadi support struktural berikutnya.
Event yang perlu diperhatikan
Tidak ada data besar Jepang dalam waktu dekat, sehingga pasar akan fokus pada data AS seperti PMI dan pidato pejabat Fed. PCE inflasi AS pada hari Kamis menjadi rilis paling penting untuk menentukan ekspektasi kenaikan suku bunga September. Setiap pernyataan dari Jepang di luar peringatan verbal — atau intervensi terkoordinasi dengan AS — akan menjadi risiko terbesar bagi USD/JPY minggu ini.
Kesimpulan trader: Bias USD/JPY masih bullish, tetapi level 162,00 adalah zona berisiko tinggi karena potensi intervensi. RSI overbought membuat pembelian di level saat ini kurang menarik secara risk-reward. Koreksi ke 160,50–160,60 lebih ideal untuk entry searah tren. Perhatikan komunikasi Jepang sebagai risiko utama jangka pendek.
