Aktivitas bisnis India terus berekspansi dengan laju yang sedikit lebih lambat pada Juni, menurut data PMI awal yang dirilis Selasa oleh S&P Global dan HSBC Bank. Meskipun ketiga indeks PMI masih berada di wilayah ekspansi, rupee hampir tidak bereaksi, dengan USD/INR bertahan di sekitar 94,65 karena narasi penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menggerakkan arah INR.
PMI: Masih Sehat, tetapi Momentum Mulai Melemah
PMI Manufaktur HSBC India turun menjadi 54,5 pada Juni dari 55,0 pada Mei — perlambatan yang relatif ringan namun masih jauh di atas ambang 50,0 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi. Sementara itu, PMI Jasa turun lebih tajam menjadi 57,3 dari 59,8, sedangkan PMI Komposit — yang mencerminkan gabungan sektor manufaktur dan jasa — turun menjadi 57,4 dari 59,3.
Ketiga indikator tersebut tetap berada di atas level 50, yang menunjukkan sektor swasta India masih tumbuh dengan baik. Namun, perlambatan terjadi secara merata di seluruh sektor, mengindikasikan bahwa momentum kuat yang terlihat pada Mei mulai memudar menjelang paruh kedua tahun 2025.
Apa Artinya bagi RBI dan Rupee?
Data PMI India membawa dua implikasi bagi kebijakan moneter. Angka yang tetap kuat mengurangi alasan bagi Reserve Bank of India (RBI) untuk melonggarkan kebijakan karena mencerminkan momentum ekonomi yang solid dan potensi tekanan inflasi dari aktivitas manufaktur. Namun, perlambatan pada Juni, meskipun belum mengkhawatirkan, sedikit meningkatkan peluang RBI mengambil sikap yang lebih akomodatif apabila tren ini berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Dalam praktiknya, data Selasa hampir tidak memengaruhi USD/INR. Pasangan mata uang ini tetap stabil di sekitar 94,65, mencerminkan pasar yang lebih dipengaruhi oleh momentum dolar AS — didorong oleh sikap hawkish The Fed dan permintaan aset safe haven akibat ketidakpastian geopolitik. Dengan dolar menguat terhadap Dolar Australia (+0,45%) dan Dolar Selandia Baru (+0,28%), tetapi relatif datar terhadap mata uang utama lainnya, stabilitas rupee lebih mencerminkan fase konsolidasi dolar daripada kekuatan INR itu sendiri.
Gambaran Teknikal: Bias USD/INR Tetap Positif
Struktur teknikal pada grafik harian USD/INR masih mendukung pandangan bullish secara hati-hati dalam jangka pendek, yang berarti tekanan terhadap rupee kemungkinan berlanjut. Harga saat ini diperdagangkan di sekitar 94,6550, tetap berada di atas SMA 100 hari pada 93,54, level yang secara konsisten menopang tren naik yang lebih luas. Pasangan ini juga masih berada di atas Bollinger Band bawah di sekitar 94,16, menunjukkan bahwa koreksi dari puncak akhir Mei lebih merupakan fase konsolidasi daripada pembalikan tren.
RSI 14 hari berada di sekitar level 45, mencerminkan momentum yang netral setelah kondisi overbought sebelumnya mereda, sehingga masih tersedia ruang bagi tren naik untuk berlanjut tanpa risiko kelelahan yang berlebihan.
Di sisi atas, SMA 20 hari di sekitar 95,14 menjadi level resistance penting pertama. Penutupan harian di atas level tersebut dapat membuka jalan menuju Bollinger Band atas di sekitar 96,11. Sebaliknya, area 94,16 menjadi support terdekat, sementara SMA 100 hari di 93,54 merupakan support struktural utama. Penembusan yang berkelanjutan di bawah level tersebut akan secara signifikan melemahkan bias bullish yang berlaku saat ini.
Perspektif Trader Asia Tenggara
Bagi trader regional, arah PMI India memiliki implikasi yang lebih luas terhadap pasar negara berkembang. Jika perlambatan aktivitas ekonomi India berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, ekspektasi pelonggaran kebijakan RBI dapat meningkat, sehingga menambah tekanan fundamental terhadap INR di tengah kekuatan dolar AS yang masih dominan. Trader yang memantau USD/INR perlu mencermati apakah pelemahan PMI Juni hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari perlambatan yang lebih berkelanjutan memasuki kuartal III 2025.
Kesimpulan trader: Bias jangka pendek USD/INR tetap bullish selama harga berada di atas SMA 100 hari di 93,54. Perlambatan PMI India belum menjadi sinyal yang mengkhawatirkan, tetapi tetap perlu dipantau. Faktor utama penggerak pasar masih adalah dolar AS — data inflasi PCE AS pada hari Kamis akan menjadi katalis penting berikutnya bagi arah USD/INR.
