WTI Rebound ke Sekitar US$71,50 di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, Namun Prospek Pasokan Membatasi Kenaikan

WTI Rebound ke Sekitar US$71,50 di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, Namun Prospek Pasokan Membatasi Kenaikan

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pulih pada perdagangan Kamis, naik dari sekitar US$69,00 ke level tertinggi intraday di kisaran US$72,50 setelah muncul laporan mengenai insiden keamanan yang melibatkan kapal komersial di Teluk Oman. Namun, reli tersebut kehilangan momentum menjelang penutupan perdagangan, dengan WTI kembali diperdagangkan di sekitar US$71,50, menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati meskipun ketegangan geopolitik kembali meningkat.

Pemicu: Insiden Baru, Ketidakpastian Berlanjut

Menurut sejumlah laporan pasar, sebuah kapal kontainer mengalami insiden di Teluk Oman, sehingga International Maritime Organization (IMO) menghentikan sementara sebagian rencana bantuan maritim di sekitar Selat Hormuz sambil terus memantau perkembangan situasi. Laporan juga menyebutkan bahwa otoritas Iran kembali mengingatkan kapal-kapal yang berlayar di luar jalur pelayaran yang telah ditetapkan mengenai potensi risiko keamanan, sehingga menambah ketidakpastian terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Pada periode sebelumnya, insiden geopolitik serupa biasanya mampu mendorong kenaikan harga minyak selama beberapa hari. Namun kali ini, penguatan harga hanya berlangsung singkat karena perhatian pasar tetap tertuju pada prospek pasokan global.

Mengapa Prospek Pasokan Tetap Menjadi Faktor Utama

Fundamental pasokan terus menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pasar minyak. Data pasar menunjukkan bahwa volume pengiriman minyak melalui kapal tanker mencapai level yang tinggi pada pekan ini, sementara Arab Saudi dilaporkan kembali mengekspor minyak dari pelabuhan Ras Tanura setelah sebelumnya mengalami gangguan.

Selain itu, kebijakan sementara Amerika Serikat yang masih mengizinkan pembelian minyak Iran yang telah dimuat sebelumnya juga diperkirakan menambah pasokan dalam jangka pendek.

Di sisi lain, spread Brent untuk kontrak terdekat dilaporkan beralih ke kondisi contango untuk pertama kalinya sejak konflik regional meningkat. Perubahan ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan jangka pendek mulai mereda. Laporan mengenai kemungkinan beberapa anggota OPEC meninjau kembali strategi produksinya juga memperkuat ekspektasi bahwa pasar minyak dapat bergerak menuju kondisi yang lebih seimbang, atau bahkan mengalami surplus pasokan pada 2026.

Salah satu faktor yang masih memberikan dukungan adalah persediaan minyak di Cushing, Oklahoma, yang tetap berada di bawah tingkat operasional yang dianggap nyaman. Namun demikian, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah tren pasar secara keseluruhan.

Kaitan dengan Data PCE

Investor juga terus mencermati perkembangan inflasi di Amerika Serikat. Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE), yang merupakan indikator inflasi pilihan Federal Reserve, naik 3,4% secara tahunan (YoY) pada Mei, sementara headline PCE meningkat menjadi 4,1% YoY.

Meskipun lonjakan harga energi sebelumnya turut mendorong inflasi, pelemahan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir berpotensi mengurangi tekanan inflasi ke depan apabila ketegangan geopolitik terus mereda.

Bagi pelaku pasar di Asia Tenggara, prospek kebijakan Federal Reserve yang lebih moderat dapat membantu membatasi penguatan dolar AS, sehingga berpotensi menurunkan biaya lindung nilai (hedging) mata uang bagi importir energi di kawasan.

Level yang Perlu Diperhatikan

WTI menghadapi area resistensi awal di sekitar US$72,50, diikuti oleh US$75,00 dan EMA 200-periode di kisaran US$78,00.

Di sisi bawah, US$69,00 tetap menjadi level support utama. Penembusan yang meyakinkan di bawah level tersebut dapat membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju kisaran harga yang lebih rendah.

Indikator teknikal menunjukkan momentum jangka pendek mulai melemah, meskipun kondisi mendekati area jenuh jual (oversold) masih dapat mendukung terjadinya rebound teknikal. Namun, arah pergerakan harga selanjutnya kemungkinan akan tetap dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Selat Hormuz, kondisi pasokan global, serta faktor-faktor ekonomi makro.

Fokus Pasar

Investor akan terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan produksi OPEC, serta data ekonomi utama Amerika Serikat untuk memperoleh petunjuk baru mengenai prospek harga minyak dan arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Peringatan Risiko

Peringatan Risiko: Artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi, nasihat keuangan, maupun rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen keuangan apa pun. Pasar komoditas memiliki tingkat volatilitas yang tinggi dan dapat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, data ekonomi, kebijakan bank sentral, serta perubahan sentimen pasar. Investor disarankan untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan kondisi keuangan serta profil risikonya sebelum mengambil keputusan investasi.