Defisit transaksi berjalan Mesir melebar menjadi US$5,1 miliar pada kuartal I 2026 (Januari–Maret), lebih dari dua kali lipat dibandingkan US$2,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data Bank Sentral Mesir. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh melebarnya defisit perdagangan barang, dengan impor minyak mencapai US$5,7 miliar dibandingkan ekspor minyak sebesar US$1,6 miliar.
Perkembangan positif:
- Remitansi: US$12,8 miliar, naik 38% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Pendapatan pariwisata: US$4,2 miliar, naik dari US$3,8 miliar.
- Pendapatan Terusan Suez: US$1,0 miliar, meningkat dari US$800 juta.
- Investasi asing langsung (FDI): US$3,7 miliar, relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemulihan Terusan Suez: Pendapatan dari Terusan Suez sempat turun tajam selama gangguan pelayaran akibat konflik Houthi pada 2024, namun berangsur pulih sejak gencatan senjata Gaza pada Oktober 2025. Jumlah kapal yang melintas setiap bulan mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun pada awal 2026, meskipun volumenya masih berada di bawah tingkat tahun 2023.
Konteks ekonomi yang lebih luas: Meskipun defisit transaksi berjalan melebar, pound Mesir relatif stabil di sekitar EGP54 per dolar AS sepanjang kuartal I dan II 2026. Mata uang tersebut didukung oleh program IMF senilai US$8 miliar, suku bunga domestik yang tinggi di kisaran 21–22%, serta cadangan devisa sekitar US$53 miliar hingga April. Tinjauan Gabungan Kelima dan Keenam IMF yang diselesaikan pada Februari juga menegaskan kembali kerangka nilai tukar yang fleksibel serta posisi cadangan devisa negara tersebut.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan remitansi, pendapatan pariwisata, dan arus perdagangan, bersama dengan kondisi pembiayaan eksternal selama paruh kedua 2026.
Sumber: Bank Sentral Mesir, IMF Country Report 2026/069, Reuters
