Emas Turun di Bawah US$4.000 untuk Pertama Kalinya Sejak November 2025 Saat Pasar Menanti Data Inflasi PCE Penting

Emas Turun di Bawah US$4.000 untuk Pertama Kalinya Sejak November 2025 Saat Pasar Menanti Data Inflasi PCE Penting

Harga emas (XAU/USD) memperpanjang penurunannya untuk sesi ketiga berturut-turut pada Kamis, turun ke sekitar US$3.995 selama perdagangan Asia. Menurut data TradingView, ini merupakan pertama kalinya emas diperdagangkan di bawah level US$4.000 sejak November 2025. Dari rekor tertinggi sekitar US$5.608 yang dicapai pada Januari 2026, harga emas kini telah terkoreksi sekitar 29%.

Apa yang Mendorong Penurunan Harga Emas?

Sejumlah faktor saat ini memberikan tekanan terhadap pasar emas.

Pertama, terjadi perubahan signifikan dalam ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Pada pertemuan bulan Juni, para pejabat The Fed menaikkan proyeksi inflasi tahun 2026, dengan inflasi PCE utama diperkirakan mencapai 3,6% dan inflasi PCE inti sebesar 3,3%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi bulan Maret. Median dot plot juga menunjukkan suku bunga dana federal dapat mencapai 3,8% pada akhir tahun, mengindikasikan bahwa peluang pengetatan kebijakan tambahan masih terbuka apabila inflasi tetap tinggi.

Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik telah mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Sentimen pasar membaik setelah perkembangan positif terkait kerangka kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang membantu mengurangi premi risiko yang sebelumnya mendukung harga emas.

Menurut data CME FedWatch, pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 34,2% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC bulan Juli, naik tajam dari 8,5% sepekan sebelumnya. Peluang kenaikan suku bunga sebelum September juga meningkat secara signifikan.

Fokus Pasar Tertuju pada Data PCE AS

Perhatian investor kini tertuju pada rilis Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat bulan Mei yang dijadwalkan terbit pada Kamis pukul 08.30 EDT.

Ekonom yang disurvei oleh FactSet memperkirakan inflasi PCE tahunan akan naik menjadi 4,1%, yang akan menjadi level tertinggi sejak April 2023. Sementara itu, inflasi PCE inti diperkirakan tetap berada di level 3,3%.

Apabila data inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama, sehingga mendukung Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sekaligus memberikan tekanan tambahan pada harga emas.

Level Teknis yang Perlu Diperhatikan

Analis teknikal menilai area US$4.000–US$4.100 sebagai zona support penting yang sebelumnya menarik minat beli pada awal tahun ini.

Beberapa analis yang dikutip oleh lembaga riset pasar menyebut level ekstensi Fibonacci di US$3.440 sebagai target penurunan potensial apabila tekanan jual terus meningkat. Namun, level tersebut merupakan skenario teknikal dan bukan kepastian arah pasar.

Di sisi atas, pemulihan harga di atas US$4.300 dapat membantu memperbaiki sentimen pasar dan mengurangi tekanan bearish yang saat ini mendominasi pergerakan emas.

Prospek

Emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya cenderung berkurang ketika imbal hasil obligasi dan Dolar AS meningkat. Secara historis, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat sering kali menjadi hambatan bagi harga emas.

Meskipun reli jangka pendek masih mungkin terjadi, sejumlah analis berpendapat bahwa kenaikan harga berpotensi kembali menghadapi tekanan jual apabila inflasi tetap tinggi dan Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sumber: Federal Reserve June 2026 Summary of Economic Projections, CME FedWatch Tool, FactSet Consensus Estimates, TradingView.