Harga Bensin AS Kembali Tembus US$4 per Galon di Tengah Kekhawatiran Gangguan Pasokan melalui Selat Hormuz

Harga Bensin AS Kembali Tembus US$4 per Galon di Tengah Kekhawatiran Gangguan Pasokan melalui Selat Hormuz

Harga rata-rata bensin eceran di Amerika Serikat kembali melampaui US$4 per galon pada hari Senin, mencapai US$4,0030 per galon secara nasional, menurut data AAA. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir Maret, ketika ketegangan geopolitik juga memengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Beberapa faktor mendorong kenaikan harga bahan bakar:

  1. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada awal Juli setelah nota kesepahaman yang sebelumnya diumumkan tidak lagi berlaku.
  2. Harga minyak Brent naik sekitar 16% selama sepekan terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$88,29 per barel.
  3. Harga rata-rata bensin nasional telah meningkat lebih dari 30% sejak akhir Februari.
  4. Sekitar 20% pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz, di mana perkembangan geopolitik terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pengiriman.

Faktor lain dari sisi pasokan juga turut mendukung kenaikan harga.

Kapasitas penyulingan minyak Rusia dilaporkan terdampak oleh serangan yang berlanjut terhadap infrastruktur energi. Sementara itu, persediaan bensin AS tercatat sebesar 210,5 juta barel, sekitar 1,5 juta barel di bawah rata-rata musiman lima tahun, berdasarkan data pemerintah AS.

Implikasi pasar

Harga bahan bakar yang tetap tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap inflasi Amerika Serikat menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 29 Juli. Prospek inflasi merupakan salah satu faktor yang dipantau pelaku pasar dalam menilai arah kebijakan moneter dan sentimen terhadap aset berisiko.

Harga minyak mentah juga banyak dipantau sebagai indikator kondisi pasar energi global karena perubahan harga minyak umumnya memengaruhi biaya penyulingan dan harga bahan bakar eceran.

Kenaikan harga bensin juga telah menjadi isu politik yang mendapat perhatian di Amerika Serikat menjelang pemilu paruh waktu pada bulan November.