Rusia melancarkan serangan rudal semalam ke Kyiv dengan 41 rudal balistik, dalam apa yang disebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai salah satu serangan rudal terbesar sejak perang dimulai.
Menurut Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko, sedikitnya satu orang tewas dan 16 orang terluka, termasuk tiga orang yang berada dalam kondisi kritis. Bangunan permukiman, gudang, supermarket, asrama mahasiswa, dan sebuah stasiun metro dilaporkan mengalami kerusakan.
Angkatan Udara Ukraina menyatakan telah mencegat 18 dari 41 rudal balistik serta 108 dari 125 drone yang diluncurkan dalam serangan tersebut.
Serangan terpisah pada hari Minggu juga menewaskan empat orang di sebuah fasilitas pos dekat Kharkiv dan sedikitnya dua orang lainnya di Zaporizhzhia, di mana tim penyelamat masih melakukan operasi pencarian hingga Minggu malam, menurut otoritas Ukraina.
Pejabat Ukraina mengatakan negara tersebut masih menghadapi kekurangan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat. Pekan lalu, Zelenskyy menyatakan bahwa Washington dan Kyiv telah mencapai kesepakatan politik mengenai lisensi produksi rudal pencegat Patriot di Ukraina, dengan target produksi dimulai pada akhir tahun ini, meskipun persediaan yang ada masih berada di bawah tekanan.
Dalam unggahannya di platform X, Zelenskyy mengatakan bahwa perlindungan terhadap rudal balistik merupakan prioritas utama Ukraina saat ini dan menegaskan bahwa rudal pencegat dibutuhkan setiap hari.
Serangan terbaru juga mendapat perhatian dari pasar energi karena potensi dampaknya terhadap kapasitas penyulingan regional dan pasokan energi Eropa, di tengah perkembangan geopolitik yang lebih luas yang turut memengaruhi pasar minyak global.
