Harga minyak Brent naik 4,2% menjadi US$87,62 per barel, sementara minyak mentah WTI menguat 4,1% menjadi US$82,49 per barel pada akhir perdagangan Rabu setelah Iran meluncurkan gelombang baru rudal balistik yang menargetkan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah, sehingga kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Perkembangan terbaru
- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS di kawasan tersebut. U.S. Central Command (CENTCOM) menyatakan seluruh rudal yang datang berhasil dicegat.
- Serangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump, usai bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berpotensi mengalami kemajuan. Namun, pejabat Iran menegaskan bahwa negara tersebut tidak sedang mengupayakan perundingan.
- Arab Saudi melaporkan telah mencegat drone dan rudal yang menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur.
- Menurut analis ANZ, Iran menolak usulan Oman mengenai koordinasi pelayaran di Selat Hormuz, sehingga pelaku pasar terus memantau kondisi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Fundamental pasar
- Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan lalu, yang dapat mengindikasikan permintaan masih relatif kuat menjelang rilis data resmi dari U.S. Energy Information Administration (EIA).
- Pasar juga terus memantau laporan bahwa OPEC+ kemungkinan akan menunda rencana peningkatan produksi selama tiga bulan mulai Oktober.
Latar belakang pasar
Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak turun sekitar 15% selama tiga sesi perdagangan sebelumnya, ketika kekhawatiran geopolitik sempat mereda.
Perkembangan terbaru di kawasan tersebut kembali mengarahkan perhatian pasar pada risiko geopolitik dan potensi dampaknya terhadap pasar energi.
Bagi pelaku pasar di Asia Tenggara
Di tengah volatilitas harga minyak yang masih tinggi dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan di Timur Tengah, kondisi pelayaran melalui Selat Hormuz, serta rilis data pasokan yang akan datang.
Sumber: Reuters, U.S. Central Command (CENTCOM), American Petroleum Institute (API), ANZ Research.
