Reli harga emas baru-baru ini didukung oleh dua faktor utama, menurut para analis komoditas ING: penyesuaian ekspektasi pasar menuju kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang lebih dovish serta permintaan struktural yang berkelanjutan dari bank-bank sentral. Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai dapat membantu menjelaskan ketahanan harga emas di luar dampak dari satu rilis data ekonomi saja.
Data Ketenagakerjaan yang Lemah Mengubah Ekspektasi terhadap Kebijakan The Fed
ING menyatakan bahwa harga emas menguat tajam setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan pasar, sehingga mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve perlu melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya tahun ini.
Menurut data Trading Economics, ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja nonpertanian (Nonfarm Payrolls/NFP) pada Juni, jauh di bawah konsensus pasar sekitar 110.000.
Data yang lebih lemah dari perkiraan tersebut turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta melemahnya dolar AS, yang pada gilirannya memberikan dukungan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Pergerakan tersebut juga mengikuti pernyataan awal pekan ini dari Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve, yang menyampaikan pandangan yang dinilai kurang hawkish dibandingkan ekspektasi sebagian pelaku pasar.
Analis ING mengatakan bahwa pelaku pasar kemungkinan akan terus mencermati data ekonomi yang akan datang untuk mencari tanda-tanda lanjutan mengenai pelemahan pasar tenaga kerja, yang dapat mengurangi kebutuhan bagi Federal Reserve untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Bank Sentral Tetap Menjadi Pembeli Bersih pada Mei
Di luar faktor suku bunga, ING juga mengutip data dari World Gold Council (WGC) yang menunjukkan bahwa bank-bank sentral secara bersih menambah sekitar 41 ton emas selama Mei.
Polandia memimpin pembelian dengan 18 ton, sehingga total pembeliannya sepanjang tahun 2026 mencapai 64 ton.
Sementara itu, Tiongkok memperpanjang tren pembelian emas menjadi 20 bulan berturut-turut dengan tambahan 10 ton selama Mei.
Di sisi lain, Rusia mengurangi cadangan emasnya sebesar 6 ton, sehingga total penjualan sejak awal tahun mencapai 34 ton, sedangkan Turki memangkas kepemilikannya sebesar 3 ton, dengan total penjualan tahun berjalan mencapai 81 ton.
Meskipun demikian, ING menilai bahwa secara keseluruhan tren permintaan dari bank sentral masih memberikan dukungan bagi pasar emas.
Mengapa Hal Ini Penting bagi Trader
Bagi pelaku pasar di Asia Tenggara, kombinasi ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih longgar serta permintaan emas yang tetap kuat dari bank-bank sentral dapat terus memberikan dukungan terhadap harga emas, meskipun pembelian dari beberapa negara sebagian diimbangi oleh penjualan dari negara lainnya.
Data ketenagakerjaan dan inflasi Amerika Serikat yang akan datang dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar dalam jangka pendek.
Menurut ING, apabila data ekonomi selanjutnya terus menunjukkan tanda-tanda pelemahan, kondisi tersebut dapat semakin memperkuat prospek yang konstruktif bagi pasar emas.
Analisis dan komentar bersumber dari para analis komoditas ING melalui FXStreet. Data pembelian emas bank sentral berasal dari World Gold Council, sementara data pasar mengacu pada Trading Economics. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.
