USD/JPY bergerak volatil pada sesi Eropa hari Kamis, turun dari atas level 162,50 ke sekitar 161,00 sebelum memangkas sebagian pelemahannya dan kemudian diperdagangkan di sekitar 161,50. Pasangan mata uang ini tetap menjadi perhatian setelah baru-baru ini mencapai level tertinggi sejak tahun 1986.
Pergerakan tajam tersebut memicu spekulasi pasar mengenai kemungkinan adanya intervensi resmi di pasar valuta asing, meskipun belum ada konfirmasi dari Kementerian Keuangan Jepang maupun Bank of Japan. Pelaku pasar terus memantau area 162–163, yang dipandang sebagai kisaran penting berdasarkan pengalaman intervensi sebelumnya.
Secara terpisah, penasihat ekonomi Toshihiro Nagahama menyatakan bahwa Bank of Japan sebaiknya melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap. Ia juga menilai pelemahan yen yang berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan terhadap daya beli rumah tangga.
Dolar AS diperdagangkan sedikit lebih lemah menjelang rilis laporan Nonfarm Payrolls Amerika Serikat. Data ekonomi terbaru, termasuk ISM Manufacturing PMI dan indeks Prices Paid, menunjukkan adanya tanda-tanda meredanya tekanan harga di sektor manufaktur. Investor juga terus mencermati komentar terbaru dari para pejabat Federal Reserve yang belum memberikan petunjuk yang jelas mengenai arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Di pasar lainnya, GBP/USD menguat setelah investor mengevaluasi komentar terbaru dari para pejabat Bank of England, sementara EUR/USD bertahan di atas 1,1400 menyusul data inflasi Zona Euro yang lebih rendah dari perkiraan. Harga emas juga tetap bertahan di atas US$4.050 setelah terkoreksi dari level tertinggi sebelumnya.
Ke depan, laporan Nonfarm Payrolls AS akan menjadi fokus utama pasar keuangan global. Volatilitas yen Jepang juga akan terus dipantau mengingat potensi dampaknya terhadap pasar valuta asing regional dan sentimen investor.
Sumber: TradingEconomics, Bank of Japan, ISM. Artikel ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.
