Robin Brooks (Brookings Institution, mantan kepala ekonom IIF) menilai pasar telah memasuki rezim disinflasi baru, namun tren "dolar kuat, aset lemah" tidak akan bertahan.
Minyak Brent ambruk ke 72 USD per barel dari di atas 100 USD sebulan lalu; emas menembus support 4.000 USD/ons.


Brooks mengidentifikasi dua katalis utama:
- Kejutan minyak disinflasi: Lalu lintas Selat Hormuz normal lebih cepat dari perkiraan, memicu penurunan tajam minyak.
- Repricing kebijakan hawkish Fed: Pasar terus memperhitungkan pengetatan meskipun inflasi energi runtuh, mendorong imbal hasil riil lebih tinggi.
Brooks menolak narasi arus utama dengan dua argumen:
- Kekerasan FOMC bersifat performatif: Kevin Warsh tidak terlibat dalam dot plot; Goldman Sachs memverifikasi median suku bunga bisa turun ke nol jika pandangan Warsh dimasukkan.
- Inkonsistensi fundamental: Harga minyak telah kembali ke level pra-konflik, namun ekspektasi kenaikan suku bunga malah lebih agresif — sebuah irasionalitas.
Brooks mengutip Keynes: "Pasar bisa tetap irasional lebih lama daripada Anda bisa tetap solven."
Laporan CPI Juni (14/7) dipandang sebagai katalis penentu. Inflasi energi yang mendingin diharapkan membatalkan harga kenaikan suku bunga.
Inti argumen: Perdagangan depresiasi dolar tidak usang. Begitu gelombang hawkish saat ini memudar, dinamika depresiasi dolar akan kembali mendominasi.
