Pasangan USD/JPY diperdagangkan sedikit di bawah 162,00 pada sesi Asia hari Jumat, tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Pelaku pasar menimbang data inflasi terbaru dari Jepang yang semakin menguat terhadap perbedaan suku bunga yang masih lebar antara Jepang dan Amerika Serikat. Meskipun inflasi Tokyo memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) dapat melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya secara bertahap, dolar AS masih memperoleh dukungan dari tingkat suku bunga yang lebih tinggi.
Inflasi Tokyo Menunjukkan Tekanan Harga Masih Berlanjut
Indeks Harga Konsumen (CPI) Tokyo untuk bulan Juni, yang sering dianggap sebagai indikator awal inflasi nasional Jepang, menunjukkan bahwa tekanan harga masih meluas.
Inflasi utama meningkat menjadi 1,7% secara tahunan (YoY), sementara Core CPI yang tidak memasukkan harga makanan segar naik menjadi 1,6%. Di sisi lain, Core-Core CPI, yang mengecualikan makanan segar dan energi, meningkat menjadi 1,9%, mengindikasikan bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari sektor energi, tetapi juga mulai menyebar ke sektor lainnya.
Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa BoJ dapat melanjutkan proses normalisasi kebijakan apabila inflasi tetap berkelanjutan. Namun, investor masih memperkirakan suku bunga Jepang akan tetap jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Perbedaan Suku Bunga Tetap Menjadi Faktor Utama
Meskipun inflasi Jepang menunjukkan perbaikan, selisih suku bunga antara Federal Reserve dan Bank of Japan masih menjadi faktor utama yang mendukung penguatan USD/JPY.
Data inflasi Amerika Serikat yang lebih kuat turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan nilai tukar dolar AS. Pada saat yang sama, pelaku pasar juga memantau apakah penurunan harga energi dalam beberapa bulan mendatang dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan memengaruhi prospek kebijakan The Fed.
Perkembangan Geopolitik Tetap Menjadi Perhatian
Investor juga mencermati laporan mengenai insiden keamanan yang melibatkan kapal komersial di sekitar Selat Hormuz. Ketidakpastian geopolitik tersebut turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, meskipun respons pasar secara keseluruhan masih relatif terbatas.
Bagi kawasan Asia, perkembangan yang memengaruhi jalur pelayaran internasional juga berpotensi berdampak pada biaya logistik, harga energi, dan sentimen pasar secara keseluruhan.
Level Teknikal yang Perlu Diperhatikan
Area 162,00 menjadi level resistensi utama. Jika berhasil ditembus, pasangan ini berpotensi menguji kisaran 163,00–163,50.
Sementara itu, area 160,50–161,00 menjadi level support terdekat, diikuti oleh zona 159,00 sebagai area penopang berikutnya.
Indikator teknikal menunjukkan bahwa USD/JPY masih berada dalam tren naik yang lebih luas, meskipun investor tetap mencermati arah kebijakan bank sentral dan potensi volatilitas akibat komentar resmi mengenai pergerakan nilai tukar.
Fokus Pasar
Pelaku pasar akan terus memantau data ekonomi Amerika Serikat, komunikasi dari Bank of Japan, pernyataan para pejabat Federal Reserve, serta perkembangan geopolitik untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah pergerakan USD/JPY.
Peringatan Risiko
Peringatan Risiko: Artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi, nasihat keuangan, maupun rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen keuangan apa pun. Pasar valuta asing memiliki tingkat volatilitas yang tinggi dan dapat dipengaruhi oleh data ekonomi, kebijakan bank sentral, perkembangan geopolitik, serta perubahan sentimen pasar. Investor disarankan untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan kondisi keuangan serta profil risikonya sebelum mengambil keputusan investasi.
