Ekonomi Teluk Diperkirakan Mengalami Kontraksi Lebih Dalam pada 2026 di Tengah Gangguan Berkepanjangan di Selat Hormuz

Ekonomi Teluk Diperkirakan Mengalami Kontraksi Lebih Dalam pada 2026 di Tengah Gangguan Berkepanjangan di Selat Hormuz

Survei Reuters terhadap para ekonom yang dilakukan pada 7–16 Juli 2026 menunjukkan sebagian besar negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar pada tahun ini dibandingkan proyeksi April, seiring berlanjutnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak telah naik hampir 20% bulan ini menjadi sekitar US$85 per barel, namun bagi negara-negara produsen Teluk, kapasitas ekspor kini menjadi kendala yang lebih besar dibandingkan harga minyak itu sendiri.

Revisi proyeksi PDB 2026 (dibandingkan survei April)

  1. Kuwait: −8,1% (sebelumnya −4,4%)
  2. Qatar: −8,1% (sebelumnya −6,0%)
  3. Bahrain: −5,1% (sebelumnya −2,9%)
  4. UEA: −0,5% (sebelumnya datar)
  5. Arab Saudi: +1,4% (sebelumnya +2,6%; di bawah estimasi IMF sebesar 1,7%)
  6. Oman: +3,1% (sebelumnya +2,2%)

Arab Saudi dan Oman tetap menjadi dua ekonomi GCC yang diperkirakan masih mencatat pertumbuhan pada 2026 karena didukung jalur ekspor alternatif yang tidak melalui Selat Hormuz.

Para ekonom juga memperkirakan pemulihan pada 2027 apabila ketegangan kawasan mereda, dengan proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 10,1% untuk Kuwait, 7,8% untuk Qatar, 6,0% untuk Arab Saudi, 5,8% untuk UEA, 4,5% untuk Bahrain, dan 2,8% untuk Oman.

Inflasi di kawasan Teluk diperkirakan tetap relatif terkendali meskipun biaya transportasi meningkat. Berdasarkan survei Reuters, inflasi Qatar diproyeksikan mencapai 3,2% dan UEA 2,9% pada 2026, didukung oleh kebijakan nilai tukar yang dipatok terhadap dolar AS serta subsidi pemerintah.

Menurut Akanksha Samdani, Kepala Ekonom Oxford Economics, "Risiko terbesar bukan semata-mata eskalasi baru, tetapi apakah dunia usaha mulai menetapkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi secara permanen."

Peningkatan premi risiko geopolitik yang berkelanjutan dapat memengaruhi penetapan harga di pasar minyak, obligasi pemerintah GCC, dan pasar mata uang regional hingga akhir tahun.

Sumber: Reuters Poll (7–16 Juli 2026), Oxford Economics, Bank Audi, Fitch Solutions.