Harga emas (XAU/USD) naik 0,47% menjadi US$3.995,35 per ons pada Jumat setelah pembeli kembali masuk menyusul aksi jual tajam pada sesi sebelumnya. Meski demikian, emas masih turun sekitar 3% sepanjang pekan ini dan berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak awal Juni.
Ketegangan Timur Tengah dan prospek suku bunga tetap menjadi fokus
Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dan munculnya kembali kekhawatiran terhadap inflasi, yang turut mendukung penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Serangan terbaru AS terhadap target Iran terjadi setelah laporan mengenai serangan terhadap sebuah kapal tanker di dekat salah satu terminal ekspor utama Iran, sementara harga energi yang tetap tinggi menambah ketidakpastian terhadap prospek inflasi Federal Reserve.
Fokus pasar bergeser dari data inflasi
Walaupun laporan CPI dan PPI AS minggu ini menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, perhatian pasar bergeser pada potensi dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi di masa mendatang.
Menurut Tony Sycamore, Analis Pasar Senior di IG, terbatasnya pemulihan harga emas setelah rilis data inflasi menunjukkan sentimen pasar masih berhati-hati. Ia menambahkan bahwa level US$3.942 tetap menjadi area acuan penting.
Level teknikal referensi
- US$3.942 merupakan area support yang banyak diperhatikan analis pasar.
- US$4.140 merupakan area resistance yang membatasi kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, Gubernur Christopher Waller, dan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams kembali menegaskan bahwa inflasi masih berada di atas target 2% bank sentral.
Logam mulia lainnya
- Perak (XAG/USD): turun 0,18% menjadi US$55,43 per ons
- Platinum (XPT/USD): turun 2,0% menjadi US$1.589,57 per ons
Pergerakan tersebut menunjukkan kinerja yang beragam di pasar logam mulia.
