Harga Minyak Menuju Kenaikan Mingguan Lebih dari 10% di Tengah Eskalasi Ketegangan AS-Iran

Harga Minyak Menuju Kenaikan Mingguan Lebih dari 10% di Tengah Eskalasi Ketegangan AS-Iran

Harga minyak naik tipis pada perdagangan Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 10%, seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang terus memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.

  1. Brent: US$84,38 per barel (+0,2%)
  2. WTI: US$78,71 per barel (+0,6%)

Ketegangan geopolitik menopang harga

Militer Iran menyatakan telah melancarkan serangan baru terhadap fasilitas AS pada Jumat pagi, termasuk serangan langsung pertama di Suriah menurut klaim Teheran. Peristiwa tersebut terjadi setelah enam malam berturut-turut serangan AS terhadap target militer Iran.

Iran juga berulang kali memperingatkan bahwa jalur pelayaran melalui Selat Hormuz dapat terdampak apabila konflik terus berlanjut.

Berdasarkan data pelayaran, lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun selama pekan ini, mencerminkan gangguan operasional dan meningkatnya kekhawatiran keamanan di kawasan.

Pasar masih menilai risiko pasokan

Menurut Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates, pasar minyak saat ini belum menunjukkan rasa urgensi yang tinggi.

Varga mengatakan bahwa tanpa eskalasi terbaru, harga minyak berpotensi bergerak lebih dekat ke US$100 per barel, yang menunjukkan pasar masih memperkirakan tambahan pasokan dari produsen dapat mengimbangi sebagian risiko gangguan pasokan.

Data persediaan minyak AS

Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), persediaan minyak mentah turun 1,7 juta barel menjadi 409,7 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Juli, sementara persediaan bensin turun 1,5 juta barel.

Sementara itu, American Petroleum Institute (API) memperkirakan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 564.000 barel pada periode yang sama.

Upaya diplomatik masih berlangsung

Qatar, Mesir, dan Pakistan dilaporkan masih melanjutkan upaya mediasi meskipun gencatan senjata pada Juni telah gagal. Perkembangan diplomatik selanjutnya dapat memengaruhi sentimen pasar.

Pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati selisih harga Brent-WTI serta aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang terus mencerminkan ekspektasi terhadap pasokan minyak global.