Emas Tertekan Akibat Perubahan Ekspektasi Suku Bunga Global, BNY Menilai Belum Ada Katalis yang Jelas untuk Pemulihan Berkelanjutan

Emas Tertekan Akibat Perubahan Ekspektasi Suku Bunga Global, BNY Menilai Belum Ada Katalis yang Jelas untuk Pemulihan Berkelanjutan

Harga emas tetap berada di bawah tekanan setelah turun di bawah level US$4.000 per ons, memperpanjang tren pelemahan yang dimulai sejak pertengahan Maret.

Menurut Geoff Yu, Strategis Makro EMEA di BNY, salah satu faktor utama yang membebani emas adalah penyesuaian besar dalam ekspektasi suku bunga global, yang mengurangi daya tarik relatif aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Kenaikan imbal hasil jangka pendek meningkatkan biaya peluang dalam memegang emas, karena investor dapat memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah dengan risiko kredit yang relatif rendah. Analis ING, Ewa Manthey, juga menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil Treasury AS dan penguatan Dolar AS telah menciptakan lingkungan yang kurang mendukung bagi logam mulia.

Bank Sentral Global Tetap Berfokus pada Inflasi

Perubahan ekspektasi suku bunga tidak hanya terjadi di Amerika Serikat.

Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga depositonya menjadi 2,25% pada bulan Juni dan memperbarui proyeksi inflasinya. Sementara itu, Bank of England mempertahankan Bank Rate di level 3,75% sambil terus memantau risiko inflasi dengan cermat.

Yu mencatat bahwa ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan Bank of England telah menurun dibandingkan periode ketidakpastian geopolitik sebelumnya. Namun menurut penilaiannya, harga emas tetap mengalami tekanan meskipun sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga telah mereda.

Narasi Lindung Nilai terhadap Pelemahan Mata Uang Mulai Memudar

Yu juga berpendapat bahwa sebagian kekuatan emas pada awal tahun didorong oleh kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal dan potensi pelemahan nilai mata uang.

Seiring meningkatnya imbal hasil nominal dan riil akibat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, sebagian permintaan emas yang terkait dengan kekhawatiran tersebut mulai berkurang. Menurut Yu, hal ini telah menghilangkan salah satu pilar penting yang sebelumnya mendukung harga emas.

Ekspektasi terhadap The Fed Tetap Menjadi Faktor Utama

Menurut data CME FedWatch, pasar saat ini memperkirakan kemungkinan pengetatan kebijakan tambahan oleh Federal Reserve lebih tinggi dibandingkan satu minggu sebelumnya.

Dalam Summary of Economic Projections (SEP) bulan Juni, Federal Reserve memproyeksikan suku bunga kebijakan median akhir tahun sebesar 3,8%, sementara inflasi inti PCE tahun 2026 diperkirakan mencapai 3,3%, masih berada di atas target jangka panjang bank sentral.

Perkembangan tersebut memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter dapat tetap ketat lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.

Fokus Pasar Beralih ke Data Inflasi PCE AS

Investor kini menantikan rilis Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat untuk bulan Mei.

Ekonom yang disurvei oleh FactSet memperkirakan inflasi PCE tahunan utama akan meningkat menjadi 4,1%, sementara inflasi inti PCE diperkirakan tetap berada di level 3,3%.

Jika data inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama serta memberikan dukungan tambahan bagi Dolar AS dan imbal hasil Treasury.

Beberapa analis, termasuk tim riset Deutsche Bank, menilai area US$3.800–US$3.900 sebagai skenario target penurunan potensial apabila tekanan bearish pada emas terus berlanjut.

Prospek

Menurut Yu, pemulihan emas yang berkelanjutan kemungkinan membutuhkan penurunan kepercayaan pasar terhadap kredibilitas kebijakan fiskal atau moneter.

Meskipun reli jangka pendek masih dapat terjadi, banyak analis menilai bahwa imbal hasil yang lebih tinggi dan Dolar AS yang lebih kuat akan terus menjadi tantangan bagi harga emas kecuali terjadi perubahan signifikan dalam kondisi ekonomi makro.

Sumber: BNY Research, European Central Bank, Bank of England, Federal Reserve June 2026 Summary of Economic Projections, CME FedWatch Tool, FactSet Consensus Estimates.