Harga minyak Brent naik 3,2% menjadi US$78,46 per barel dan WTI menguat 3,4% menjadi US$73,83 dalam perdagangan Asia pada hari Senin, memperpanjang kenaikan mingguan lebih dari 4% setelah Iran memperluas serangan ke Qatar dan UEA serta menyatakan Selat Hormuz ditutup menyusul serangan terhadap sebuah kapal komersial. Amerika Serikat membantah klaim tersebut, meskipun aktivitas pelayaran di kawasan tersebut melambat secara signifikan selama akhir pekan.
Mengapa Asia menghadapi risiko pasokan yang lebih besar: Menurut data pelayaran Kpler, sekitar 84% minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia. Selama periode gangguan sebelumnya tahun ini, impor minyak mentah gabungan ke China, Jepang, Korea Selatan, dan India turun lebih dari 7 juta barel per hari dibandingkan sebelum krisis, menurut data IEA. Kondisi tersebut mendorong kilang untuk mencari pasokan alternatif, termasuk dari Afrika Barat, Amerika Serikat, dan Rusia.
Pertimbangan pada rantai pasokan: Sebagian besar minyak mentah dari Teluk merupakan minyak medium hingga berat dengan kadar sulfur tinggi, sementara banyak pasokan alternatif memiliki karakteristik lebih ringan dan kadar sulfur lebih rendah. Perbedaan kualitas ini dapat meningkatkan kompleksitas proses pengolahan dan biaya penyulingan meskipun volume pasokan dapat digantikan. Jalur pipa alternatif, termasuk East-West Pipeline milik Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi di UEA, hanya memiliki kapasitas terbatas dibandingkan volume normal yang melewati Hormuz sehingga sulit sepenuhnya menggantikan gangguan yang berkepanjangan.
Tingkat paparan berbeda di setiap negara:
- China: Importir terbesar dengan cadangan strategis dan komersial yang besar. Sejumlah kilang dilaporkan telah memajukan jadwal pemeliharaan sebagai langkah antisipasi.
- Jepang dan Korea Selatan: Sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk dengan pilihan pasokan alternatif yang relatif terbatas.
- Importir yang lebih kecil di Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam: Umumnya memiliki cadangan yang lebih kecil serta fleksibilitas yang lebih terbatas dalam memperoleh pasokan di pasar spot.
Perkembangan yang perlu dipantau: Pelaku pasar terus memantau apakah produsen utama akan mengumumkan peningkatan produksi secara terkoordinasi atau apakah negara-negara anggota IEA akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan strategis. Margin kilang dan crack spread produk juga tetap menjadi indikator yang banyak diperhatikan untuk menilai kondisi pasar pengolahan minyak selama periode gangguan pasokan.
Sumber: Reuters, IEA, Kpler
