Harga Minyak Naik 3,5% karena Struktur Kontrak Berjangka Mencerminkan Kekhawatiran terhadap Pasokan

Harga Minyak Naik 3,5% karena Struktur Kontrak Berjangka Mencerminkan Kekhawatiran terhadap Pasokan

Kontrak berjangka Brent naik US$2,67 (3,51%) menjadi US$78,68 per barel, sementara WTI bertambah US$2,48 (3,47%) menjadi US$73,89 setelah Iran memperluas serangan ke negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS di dekat Selat Hormuz. Kedua kontrak tersebut memperpanjang kenaikan mingguan sekitar 4–6%.

Apa yang ditunjukkan oleh kurva kontrak berjangka: Berbeda dengan lonjakan harga yang semata-mata dipicu oleh berita utama, pergerakan kali ini disertai peningkatan kondisi backwardation, yaitu ketika kontrak jangka pendek diperdagangkan pada harga yang lebih tinggi dibanding kontrak jangka panjang. Struktur ini umumnya dikaitkan dengan kondisi pasokan fisik yang lebih ketat dibandingkan aktivitas spekulatif semata. Hal ini berbeda dengan kenaikan harga akibat peristiwa geopolitik yang biasanya mereda setelah pasar mencerna perkembangan awal.

Faktor penyeimbang di sisi pasokan mulai terlihat:

  1. UEA meningkatkan produksi minyak mentah ke rekor tertinggi bulan lalu sebagai bagian dari upaya produsen Teluk untuk mengurangi dampak potensi gangguan pasokan yang terkait dengan Hormuz.
  2. IEA juga memperingatkan bahwa eskalasi yang berkepanjangan dapat menunda rencana pemulihan persediaan minyak global yang sebelumnya diperkirakan berlangsung pada akhir tahun ini.
  3. Data pelacakan kapal masih menunjukkan lalu lintas di Selat Hormuz berada di bawah tingkat normal, sementara Washington dan Teheran tetap berbeda pendapat mengenai sejauh mana adanya penutupan resmi.

Fokus pasar: Analis dari Axi dan PVM Oil Associates menyatakan bahwa pergerakan harga Brent akan terus dipengaruhi oleh perkembangan ketegangan di kawasan serta kondisi jalur pelayaran. Mereka menambahkan bahwa kemajuan dalam upaya deeskalasi dan tanda-tanda normalisasi aktivitas pelayaran akan tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pasar.

Sumber: Reuters, CNBC, IEA