Rupee India Menguat Seiring Data Ketenagakerjaan AS yang Lebih Lemah dan Harga Minyak yang Lebih Rendah Memberikan Dukungan

Rupee India Menguat Seiring Data Ketenagakerjaan AS yang Lebih Lemah dan Harga Minyak yang Lebih Rendah Memberikan Dukungan

Rupee India (INR) dibuka menguat tipis pada perdagangan Jumat, dengan USD/INR melemah ke sekitar 95,26 seiring pelemahan dolar AS secara luas setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar 100,78, melanjutkan pelemahan pada sesi sebelumnya, menurut data Trading Economics.

Data Ketenagakerjaan yang Lebih Lemah Mengubah Ekspektasi terhadap Kebijakan The Fed

Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Juni menunjukkan bahwa ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja, jauh di bawah konsensus pasar sekitar 110.000.

Sementara itu, data ketenagakerjaan bulan Mei direvisi turun dari 172.000 menjadi 129.000.

Tingkat pengangguran AS turun tipis menjadi 4,2%, sedangkan Average Hourly Earnings meningkat 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, secara umum sejalan dengan ekspektasi pasar.

Setelah data tersebut dirilis, pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed). Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas tersirat kenaikan suku bunga The Fed hingga September turun menjadi sekitar 53,2%, dibandingkan hampir 64% dua hari sebelumnya.

Dalam pidatonya pada ECB Forum di Sintra, Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan bahwa inflasi masih berada pada tingkat yang "terlalu tinggi", namun tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai arah kebijakan moneter dalam jangka pendek.

Harga Minyak yang Lebih Rendah Terus Mendukung Prospek Ekonomi India

Sebagai negara yang mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya, India berpotensi memperoleh manfaat dari penurunan harga minyak global melalui berkurangnya biaya impor dan tekanan inflasi.

Kontrak berjangka MCX Crude Oil telah stabil di kisaran 6.450–6.600 setelah mengalami penurunan tajam sepanjang Juni, seiring kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dilaporkan membantu meredakan kekhawatiran geopolitik terkait pasokan energi.

Harga energi yang lebih rendah secara umum dipandang mendukung neraca eksternal India serta prospek inflasi negara tersebut.

Arus Keluar Investor Asing Menunjukkan Tanda-Tanda Melambat

Foreign Institutional Investors (FIIs) masih mencatatkan penjualan bersih di pasar saham India selama dua hari perdagangan pertama bulan Juli, dengan total arus keluar sekitar ₹1.452 crore.

Namun demikian, laju penjualan mulai melambat seiring turunnya harga minyak dan meningkatnya perhatian pasar terhadap musim laporan kinerja perusahaan, khususnya di sektor jasa keuangan dan konsumsi.

Gambaran Teknikal

USD/INR masih diperdagangkan di atas Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di sekitar 94,93, setelah menembus pola descending triangle.

Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar 54, yang menunjukkan momentum kenaikan dalam tingkat moderat tanpa mengindikasikan kondisi jenuh beli.

Level support utama berada di sekitar 94,93, diikuti oleh 94,76 dan 94,07.

Apabila pasangan mata uang ini tetap bertahan di atas area support tersebut, pelaku pasar dapat terus memantau level 96,00 sebagai area resistensi teknikal potensial.

Mengapa Hal Ini Penting bagi Trader di Asia Tenggara

Pergerakan terbaru rupee India mencerminkan tren yang lebih luas di sejumlah negara Asia pengimpor minyak, di mana harga minyak yang lebih rendah telah membantu memperbaiki sentimen pasar.

Bagi trader di Asia Tenggara, perkembangan di pasar energi global serta kemajuan dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran dapat terus menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan mata uang regional.

Analisis teknikal dan data pasar mengacu pada FXStreet, Trading Economics, dan CME FedWatch Tool. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi.