Perak Turun ke Level Terendah Tujuh Bulan di Tengah Tekanan dari Faktor Moneter dan Permintaan Industri

Perak Turun ke Level Terendah Tujuh Bulan di Tengah Tekanan dari Faktor Moneter dan Permintaan Industri

Harga perak (XAG/USD) diperdagangkan di sekitar US$57 per ons pada Kamis, level terendah sejak November 2025 setelah mengalami penurunan tajam dalam dua sesi terakhir.

Pada saat yang sama, Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terhadap sekeranjang mata uang utama, sehingga meningkatkan biaya pembelian komoditas yang dihargakan dalam dolar bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Bagi trader di Asia Tenggara, penguatan dolar berarti biaya masuk ke pasar perak dalam mata uang lokal menjadi lebih mahal.

Mengapa Perak Berkinerja Lebih Buruk Dibandingkan Emas?

Pelemahan perak baru-baru ini mencerminkan karakteristik uniknya sebagai logam mulia sekaligus komoditas industri.

Seperti emas, perak sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Menurut data CME FedWatch, pasar saat ini memperkirakan peluang pengetatan kebijakan Federal Reserve lebih tinggi dibandingkan satu minggu sebelumnya.

Suku bunga yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS umumnya mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil, termasuk perak dan emas.

Namun, perak juga menghadapi tantangan yang berasal dari sisi permintaan industri.

Menurut proyeksi industri yang dikutip dari Metals Focus, permintaan perak dari sektor tenaga surya fotovoltaik (PV) — salah satu penggunaan industri terbesar perak — berpotensi menurun pada tahun 2026 karena produsen terus mengurangi penggunaan perak per panel dan meningkatkan efisiensi produksi.

Analis ING juga menyoroti perlambatan pertumbuhan permintaan perak dari sektor energi surya, dengan tren pengurangan penggunaan perak dan substitusi material dalam manufaktur panel surya yang diperkirakan masih berlanjut.

Sejumlah analis pasar menilai bahwa ketika faktor moneter dan permintaan industri sama-sama melemah, tekanan penurunan terhadap harga perak dapat menjadi lebih besar.

Fokus Pasar Tertuju pada Data Inflasi AS

Investor kini menantikan rilis Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat.

Ekonom yang disurvei oleh FactSet memperkirakan inflasi PCE tahunan akan meningkat menjadi 4,1%, sementara inflasi bulanan diperkirakan naik 0,5%.

Jika data inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga mendukung Dolar AS dan imbal hasil Treasury sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap harga perak.

Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah dapat membuka peluang terjadinya pemulihan jangka pendek pada logam mulia, terutama setelah kondisi pasar yang sudah berada di area oversold.

Level Teknis yang Perlu Diperhatikan

Indikator Relative Strength Index (RSI) pada grafik 4 jam masih berada di wilayah oversold, yang mengindikasikan bahwa laju penurunan harga dapat mulai melambat dalam waktu dekat.

Analis teknikal mengidentifikasi level terendah Desember 2025 di sekitar US$56,45 sebagai area support penting. Jika level tersebut ditembus, area pertengahan US$54 dapat menjadi zona support potensial berikutnya.

Di sisi atas, perak kemungkinan perlu kembali menembus area US$61,40 — yang sebelumnya berfungsi sebagai support — sebelum skenario pemulihan yang lebih berkelanjutan dapat memperoleh momentum.

Fundamental Jangka Panjang Tetap Mendukung

Meskipun harga perak mengalami tekanan dalam jangka pendek, faktor fundamental jangka panjang masih relatif positif.

Menurut laporan World Silver Survey 2026 yang diterbitkan oleh Silver Institute, pasar perak global diproyeksikan mencatat defisit pasokan tahunan untuk tahun keenam berturut-turut, sementara penurunan persediaan yang terakumulasi terus mengurangi pasokan yang tersedia.

Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa defisit pasokan saja belum tentu mampu mencegah penurunan harga dalam jangka pendek ketika kondisi makroekonomi dan ekspektasi suku bunga menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor.

Sumber: CME FedWatch Tool, FactSet Consensus Estimates, Silver Institute World Silver Survey 2026, Metals Focus.