Kontrak berjangka minyak mentah WTI diperdagangkan di sekitar US$69 per barel pada Kamis, memperpanjang pelemahan dalam beberapa sesi terakhir dan kembali ke level yang terakhir terlihat sebelum meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada awal tahun ini.
Harga minyak Brent juga bergerak lebih rendah karena investor semakin fokus pada tanda-tanda membaiknya kondisi pasokan dan berkurangnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan aliran energi global.
Kondisi Pasokan Menunjukkan Tanda-Tanda Perbaikan
Sentimen pasar terhadap ketersediaan pasokan minyak mentah membaik dalam beberapa sesi terakhir.
Menurut pernyataan dari International Maritime Organization (IMO), aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz telah meningkat setelah dilakukan penilaian keamanan dan upaya koordinasi untuk mendukung kelancaran navigasi komersial di kawasan tersebut.
Data industri dan laporan pasar juga menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah dari sejumlah produsen utama di kawasan Teluk telah pulih dibandingkan periode ketika ketegangan geopolitik berada pada puncaknya.
Para analis menilai bahwa berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan telah membantu mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendukung harga minyak.
Selain itu, komentar terkait kondisi pelayaran di Selat Hormuz dipandang oleh sebagian pelaku pasar sebagai faktor yang mengurangi ketidakpastian mengenai biaya transportasi dan akses kapal melalui jalur perdagangan energi yang penting tersebut.
Ekspektasi Suku Bunga yang Lebih Tinggi Menambah Tekanan
Selain perkembangan di sisi pasokan, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat juga memengaruhi sentimen pasar.
Menurut data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang pengetatan kebijakan Federal Reserve lebih tinggi dibandingkan satu minggu sebelumnya.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat memperkuat Dolar AS dan meningkatkan biaya pinjaman, dua faktor yang berpotensi menekan permintaan komoditas dan aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Akibatnya, kondisi makroekonomi kini menjadi hambatan tambahan bagi harga minyak mentah.
Venezuela Tetap Menjadi Faktor yang Perlu Dipantau
Perhatian pasar juga tertuju pada Venezuela setelah muncul laporan mengenai aktivitas gempa bumi kuat di wilayah pesisir utara negara tersebut.
Laporan awal menunjukkan belum ada konfirmasi mengenai gangguan besar terhadap infrastruktur minyak utama, meskipun proses penilaian dampak masih terus berlangsung.
Pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi karena pemadaman listrik berkepanjangan atau kerusakan infrastruktur berpotensi memengaruhi tingkat produksi apabila kondisi memburuk.
Untuk saat ini, sebagian besar analis melihat situasi tersebut sebagai faktor risiko potensial, bukan gangguan pasokan yang telah terkonfirmasi.
Level Teknis yang Perlu Diperhatikan
Analis teknikal mengidentifikasi area US$67–US$68 sebagai zona support potensial untuk minyak WTI.
Pemulihan yang berkelanjutan di atas level US$70 dapat membantu menstabilkan sentimen pasar dalam jangka pendek. Sebaliknya, peningkatan kembali ketegangan geopolitik atau konfirmasi gangguan produksi minyak dapat memicu volatilitas harga yang lebih tinggi.
Investor juga memantau sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan datang, termasuk indikator inflasi, untuk memperoleh petunjuk mengenai prospek suku bunga dan arah pergerakan Dolar AS.
Sumber: International Maritime Organization (IMO), International Energy Agency (IEA), CME FedWatch Tool, USGS, Reuters, Federal Reserve.
